A. Pengertian Masa Nifas
1.
Masa nifas adalah masa
dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan
2.
Masa nifas dimulai
setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali
seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu
Bari,2000:122).
3.
Masa nifas merupakan
masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu
berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang
normal. (F.Gary cunningham,Mac Donald,1995:281).
4.
Masa nifas adalah masa
setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan untuk memulihkan
kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6- 12 minggu. ( Ibrahim C,
1998).
5. Nifas adalah Perubahan yang terjadi pada ibu hamil
setelah melahirkan. Biasanya masa nifas ini adalah masa dimana rahim
mengeluarkan darah yang terus menerus saat kontraksi agar perut dapat
mengecil seperti keadaan semula. Semakin rahim berkontraksi, maka rahim akan
terus mengeluarkan darah. Hal ini akan dialami oleh ibu setelah melahirkan.
Keluarnya darah pada ibu setelah melahirkan ini banyak sekali, tetapi hal ini
sudah lumrah terjadi pada ibu setelah melahirkan. Keadaan ini biasanya terjadi
2 jam setelah melahirkan sampai 40 hari setelah melahirkan yang disebut masa nifas.
6. Keadaan seperti ini
akan terus diobservasi dan dipantau selama 2 jam setelah melahirkan agar
perdarah yang keluar dapat diketahui. selain mengobservasi keluarnya darah,
bidan juga akan terus mengobservasi kandung kemih( kantong kencing ), makan dan
minum ibu, kontrakasi uterus ( rahim ), tanda-tanda vital ( mengukur tekanan
darah ibu, mengukur suhu tubuh ibu, megukur nadi ibu, dan pernafasan ibu ),
pergerakan ibu ( miring kanan dan miring kiri ) dan berjalan gunanya agar
perdarahan dapat berkurang karena rahim akan terus berkontraksi.
7. Setelah 2 jam
mengobservasi keadaan ibu, bidan pasti akan mencatat keadaan ibu gunanya untuk
melakukan rencana tindakan selanjutnya yang akan dilakukan pada ibu. jika
keadaan ibu baik-baik saja dan rahim berkontraksi dengan baik maka tindakan
selanjutnya akan dilakukan, tetapi jika keadaan ibu semakin melemah dan
perdarahan tidak berhenti dan rahim tidak berkontraksi, anjurkan ibu untuk BAK
( Buang Air kecil ), agar darah yang akan keluar tidak tehambat, tetapi jika
msh tetap terjadi, maka bidan akan melalukan tindakan seperti mengeluarkan urin
dengan mamasukan selang kencing melalui lubang kencing, sehingga darah tidak
terhambat untuk keluar, setelah itu bidan akan membersihkan dengan memasukan
tampon (kasa steril ) agar darah bisa diserap oleh kasa steril. Setelah
dibersihkan bidan akan mengobservasi lanjut keadaan pasien. jika perdarah sudah
berhenti maka bidan akan melanjutkan observasi 6 jam setelah melahirkan.

B. Tujuan Asuhan Masa
Nifas
Tujuan dari pemberian asuhan pada masa nifas untuk :
1.
Menjaga kesehatan ibu
dan bayinya, baik fisik maupun psikologis.
2.
Melaksanakan skrinning
secara komprehensif, deteksi dini, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi
pada ibu maupun bayi.
3.
Memberikan pendidikan
kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, cara dan manfaat
menyusui, pemberian imunisasi serta perawatan bayi sehari-hari.
4.
Memberikan pelayanan
keluarga berencana.
5.
Mendapatkan kesehatan
emosi.
C.
Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas
Bidan memiliki peranan
yang sangat penting dalam pemberian asuhan post partum. Adapun peran dan
tanggung jawab dalam masa nifas antara lain :
1.
Memberikan dukungan
secara berkesinambungan selama masa nifas sesuai dengan kebutuhan ibu untuk
mengurangi ketegangan fisik dan psikologis selama masa nifas.
2.
Sebagai promotor
hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga.
3.
Mendorong ibu untuk
menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa nyaman.
4.
Membuat kebijakan,
perencana program kesehatan yang berkaitan ibu dan anak dan mampu melakukan
kegiatan administrasi.
5.
Mendeteksi komplikasi
dan perlunya rujukan.
6.
Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai
cara mencegah perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik,
serta mempraktekkan kebersihan yang aman.
7.
Melakukan manajemen
asuhan dengan cara mengumpulkan data, menetapkan diagnosa dan rencana tindakan
serta melaksanakannya untuk mempercepat proses pemulihan, mencegah komplikasi
dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama priode nifas.
8.
Memberikan asuhan
secara professional
D.Tahapan Masa Nifas
Masa nifas terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu :
1.
Puerperium dini
Suatu masa kepulihan dimana ibu diperbolehkan
untuk berdiri dan berjalan-jalan.
2.
Puerperium intermedial
Suatu masa dimana kepulihan dari organ-organ
reproduksi selama kurang lebih enam minggu.
3.
Remote puerperium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
kembali dlam keadaan sempurna terutama ibu bila ibu selama hamil atau waktu
persalinan mengalami komplikasi.
E.
Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
Kebijakan program nasional pada masa nifas yaitu paling sedikit
empat kali melakukan kunjungan pada masa nifas, dengan tujuan untuk :
1.
Menilai kondisi
kesehatan ibu dan bayi.
2.
Melakukan pencegahan
terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya gangguan kesehatan ibu nifas dan
bayinya.
3.
Mendeteksi adanya
komplikasi atau masalah yang terjadi pada masa nifas.
4.
Menangani komplikasi
atau masalah yang timbul dan mengganggu kesehatan ibu nifas maupun bayinya.
Masa nifas: mulai setelah persalinan selesai
dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Seluruh alat genitalia baru pulih
kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan. Perubahan-perubahan
pada alat genitalia (dalam & luar) secara keseluruhannya disebut involusi.
Disamping involusi terjadi juga hemokonsentrasi dan laktasi. Laktasi terjadi
karena pengaruh Lactogenic Hormone dari kelenjar hipofise (klik ‘tuk lihat gambar) terhadap
kelenjar-kelenjar payudara. Setelah janin lahir, besar rahim kira-kira setinggi
pusat ibu, segera setelah plasenta lahir, tinggi besar rahim lk (lebih kurang)
2 jari di bawah pusat.Pada hari ke-5 paska melahirkan rahim lk setinggi 7 cm
diatas tulang kemaluan atau setengah jarak tulag kemlauan – pusat, sesudah 12
hari rahim tidak dapat diraba lagi di atas tulng kemaluan.
F.
Hemokonsentrasi
Hemokonsentrasi artunya darah ibu mulai
mengental lagi setelah sebelumnya pada waktu kehamilan megalami hemodilusi
(pengenceran). Pada kehamilan terdapat hubungan antara sirkulasi ibu &
plasenta. Setelah melahirkan, hubungan tersebut hilang tiba-tiba. Volume darah
pada ibu relatif bertambah. Keadaan ini dapat diatasi dengan mekanisme
kompensasi dengan timbulnya hemokonsentrasi yang terjadi pada hari-hari ke 3-15
hari post partum.
G. Laktasi
Perubahan yang terdapat pada kedua payudara
sejak kehamilan muda: meningkatnya jumlah jaringan payudara terutama
kelenjar-kelenjar dan lemak, dtemukan colostrum (ASI awal) pada saluran di
payudara, pembuluh darah yang bertambah. Pengaruh hormon-hormon hipofisis
kembali muncul, antara lain lactogenic hormone. Pengaruh oksitosin
mengakibatkan kelenjar-kelenjar susu berkontraksi, sehingga terjadi pengeluaran
ASI. Umumnya produksi asi yang sebetulnya hari ke 2-3. Pada hari-hari I ASI
hanya berupa colostrums Rangsangan psikis merupakan refleks dari mata ibu ke
otak, mengakibatkan oksitosin dhasilkan, sehingga ASI dapat dikeluarkan dan
sebagai efek sampingan rahim menajdi semakin keras berkontraksi
Dengan memberi ASI akan bertambah rasa kasih
sayang antara ibu dan anak. ASI juga dapat melindungi bayi terhadap infeksi
seperti: usus, paru2 dan telinga karena ASI mengandung lactoferin, lysozyme
& imunogbulin A.
· Lokia =
sekret yang berasal dari rongga rahim dan vagina dalam masa nifas.
· Hari I =
lokia nigra/ lokia kruenta: darah segar + sisa-sisa selaput ketuban, sisa-sisa
vernix caseosa (lemak2 bayi), lanugo (bulu bayi) & mekonium (pub bayi).
· Hari 2 – 6 hari = lokia
sanguilenta (merah kental)
· Minggu 1 – 2 =
lokia serosa (bening)
· > 2 mg =
lokia alba (putih)
Biasanya lokia berbau sedikit amis, jika
terdapat infeksi, akan berbau busuk.
H. Perawatan Post Partum
Dimulai sejak kala ini dengan menghindarkan
kemungkinan perdarahan & infeksi. Bila ada laserasi jalan lahir/ luka bekas
episiotomi, lakukan penjahitan & perawatan luka sebaik-baiknya 8 jam post
partum wanita harus tidur telentang untuk mencegah terjadinya perdarahan
sesudah 8 jam, badan miring kiri dan kanan untuk mencegah trombosis. Ibu dan
bayi bisa diletakkan dalam 1 kamar (rooming in) atau terpisah. Pada hari ke-2
bila perlu dapat dilakukan latihan-latihan senam. Hari ke-3 duduk, ke-4
berjalan, ke-5 dapat dipulangkan. Diet yang diberikan harus bermutu tinggi
dengan cukup kalori, cukup protein, cairan serta buah-buahan karena wanita
mengalami hemokosentrasi. Miksi atau berkemih harus cepat dapat dilakukan
sendiri. Bila kandung kencing penuh & wanita tidak dapat berkemih sendiri,
sebaiknya dilakukan kateterisasi dengan memperhatikan jangan sampai
infeksi.Umumnya partus lama, yang kemudian diakhiri dengan ekstraksi valcum/
cunam, dapat mengakibatkan hal-hal yang demikian sampai terjadi retensio urin.
Bila perlu, sebaiknya dipasang dawer catheter/ indwelling catheter untuk
memberi istirahat pada otot-otot kandung kencing.
Dengan demikian, jika ada kerusakan-kerusakan
pada otot-otot kandung kencing, otot-otot cepat pulih kembali sehingga tugasnya
cepat pula kembali. Defekasi (boker) harus ada 3 hari paska melahirkan. Bila
ada obstipasi, dapat diberikan pencahar seperti SOLAC (sponsor). Bila terdapat
after pain/ mules dapat diberikan analgetika/ sedativa supaya dapat tidur.
Delapan jam paska melahirkan ibu disuruh menyusui bayi untuk merangsang
laktasi.
Ibu tidak boleh menyusukan bayi jika menderita:
· Penyakit typus
· TBC aktif
· Kelainan jantung berat
· Keracuna tiroid
· Diabetes berat
· Gangguan jiwa
· Puting yang masuk kedalam
· Morbus hansen (lepra)
I. Perawatan payudara
Cuci areola payudara & puting susu dengan
teratur dengan sabun dan beri minyak/ cream agar tetap lemas. Jangan sampai
kelak mudah lecet/ pecah-pecah. Sebelum menyusui payudara harus dibiarkan lemas
dengan melakukan message secara menyeluruh. Bersihkan sebelum menyusui. Jika
bayi meninggal, laktasi harus dihentikan dengan cara mengadakan pembalutan
kedua mamma hingga tertekan & dapat pula diberi obat penekan laktasi
bromocryptin sehingga lactogenic hormon tertekan.
J. Pemeriksaan Paska Melahirkan
1.
Keadaan umum
2.
Keadaan payudara &
putingnya
3.
Dinding perut, apakah
ada hernia
4.
Keadaan perineum
5.
Kandung kencing, ada sistokel/
uretrokel atau tidak.
6.
Rektum, ada rektokel
& pemeriksaan tonus. M. sfingerani.
7.
Adanya fluor albus
(keputihan)
8.
Keadaan serviks,
uterus & adnexanya.
Perdarahan yang mungkin terjadi dalam masa 40
hari biasa disebabkan oleh adanya subinvolusi uteri (rahim yang lambat
mengecil) terhadap penderita tidur dan diberi tablet ergometrin. Bila
perdarahan tetap ada, lakukan kuretase untuk menyingkirkan kemungkinan adanya
sisa-sisa plasenta. Bila curiga ada keganasan, lakukan pemeriksaan sitologi
& eksisi percobaan untuk menyingkirkan keganasan
K. Kebutuhan Dasar Ibu Nifas
Periode post partum adalah waktu penyembuhan dan perubahan,
waktu kembali ke keadaan tidak hamil. Dalam masa nifas, alat-alat genitalia
interna maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih seperti ke keadaan sebelum
hamil. Untuk membantu mempercepat proses penyembuhan pada masa nifas, maka ibu
nifas membutuhkan diet yang cukup kalori dan protein, membutuhkan istirahat
yang cukup dsb. Kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan ibu nifas antara lain:
1. Kebutuhan nutrisi
dan cairan
Ibu nifas
memerlukan nutrisi dan cairan untuk pemulihan kondisi kesehatan
setelah melahirkan,
cadangan tenaga serta untuk memenuhi produksi air susu.
Ibu nifas
dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan akan gizi sebagai
berikut:
2.
Makan dengan diet gizi seimbang
untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral
3.
Minum sedikitnya 3
liter setiap hari
4.
Mengkonsumsi tablet
besi selama 40 hari post partum
5.
Mengkonsumsi vitamin A
200.000 intra unit
Zat-zat yang dibutuhkan ibu pasca persalinan
antara lain:
1.
Kalori
Kebutuhan kalori pada masa menyusui
sekitar 400-500 kalori.
Wanita
dewasa
memerlukan 1800 kalori
per hari. Sebaiknya ibu nifas
jangan mengurangi kebutuhan kalori, karena akan mengganggu proses metabolisme
tubuh dan
menyebabkan ASI rusak.
2.
Protein
Kebutuhan protein
yang dibutuhkan adalah 3 porsi per hari. Satu protein
setara dengan tiga gelas susu, dua butir telur, lima putih telur, 120 gram
keju, 1 ¾ gelas yoghurt, 120-140 gram ikan/daging/unggas, 200-240 gram tahu
atau 5-6 sendok selai kacang.
Kalsium dan vitamin D berguna untuk pembentukan tulang dan gigi. Kebutuhan
kalsium
dan vitamin D
didapat dari minum susu rendah kalori atau berjemur di pagi hari. Konsumsi kalsium
pada masa menyusui
meningkat menjadi 5 porsi per hari. Satu setara dengan 50-60 gram keju, satu cangkir
susu krim, 160 gram ikan salmon, 120 gram ikan sarden, atau 280 gram tahu kalsium.
4.
Magnesium
Magnesium dibutuhkan sel tubuh untuk membantu gerak
otot, fungsi syaraf dan
memperkuat tulang.
Kebutuhan megnesium didapat pada gandum dan kacang-kacangan.
5.
Sayuran hijau dan buah
Kebutuhan yang diperlukan sedikitnya tiga
porsi sehari. satu porsi setara dengan 1/8 semangka, 1/4 mangga, ¾ cangkir
brokoli, ½ wortel, ¼-1/2 cangkir sayuran hijau yang telah dimasak, satu tomat.
Selama menyusui,
kebutuhan karbohidrat kompleks diperlukan enam porsi per
hari. Satu porsi setara dengan ½ cangkir nasi, ¼ cangkir jagung pipil, satu porsi sereal atau oat, satu iris
roti dari bijian utuh, ½ kue muffin dari bijian utuh, 2-6 biskuit kering atau
crackers, ½ cangkir
kacang-kacangan, 2/3 cangkir kacang koro, atau 40 gram mi/pasta dari bijian utuh.
7.
Lemak
Rata-rata kebutuhan lemak dewasa adalah 41/2 porsi lemak (14 gram perporsi)
perharinya. Satu porsi lemak
sama dengan 80 gram keju, tiga sendok makan kacang tanah atau kenari, empat
sendok makan krim, secangkir es krim, ½ buah alpukat, dua sendok makan selai
kacang, 120-140 gram daging tanpa lemak, sembilan kentang goreng, dua iris cake, satu sendok
makan mayones atau mentega, atau dua sendok makan saus salad.
8.
Garam
Selama periode nifas,
hindari konsumsi garam berlebihan. Hindari makanan
asin seperti kacang asin, keripik kentang atau acar.
9.
Cairan
Konsumsi cairan sebanyak 8 gelas
per hari. Minum sedikitnya 3 liter tiap hari. Kebutuhan akan cairan diperoleh dari air putih,
sari buah, susu dan sup.
10.Vitamin
Ø Vitamin A
yang berguna bagi kesehatan kulit, kelenjar serta mata. Vitamin A
terdapat dalam telur, hati dan keju. Jumlah yang dibutuhkan adalah 1,300 mcg.
Ø Vitamin
B6 membantu penyerapan protein dan meningkatkan fungsi syaraf. Asupan vitamin
B6 sebanyak 2,0 mg per hari. Vitamin B6 dapat ditemui di daging, hati, padi-padian, kacang
polong dan kentang.
Ø Vitamin E
berfungsi sebagai antioksidan, meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh. Terdapat dalam makanan
berserat, kacang-kacangan, minyak nabati dan gandum.
11.
Zinc (Seng)
Berfungsi untuk kekebalan tubuh,
penyembuhan luka dan pertumbuhan. Kebutuhan Zinc didapat dalam daging, telur dan
gandum. Enzim
dalam pencernaan dan metabolisme memerlukan seng. Kebutuhan seng setiap hari
sekitar 12 mg. Sumber seng terdapat pada seafood, hati dan daging.
(10)
12.
DHA
DHA penting untuk perkembangan
daya lihat dan mental bayi.
Asupan DHA berpengaruh langsung pada kandungan
dalam ASI. Sumber DHA ada pada telur, otak,
hati dan ikan.
2.
Kebutuhan Ambulasi
Sebagian besar pasien dapat melakukan
ambulasi segera setelah persalinan usai. Aktifitas tersebut amat berguna bagi
semua sistem tubuh, terutama fungsi usus, kandung kemih, sirkulasi dan
paru-paru. Hal tersebut juga membantu mencegah trombosis pada pembuluh tungkai
dan membantu kemajuan ibu dari ketergantungan peran sakit menjadi sehat.
Aktivitas dapat dilakukan secara bertahap, memberikan jarak antara aktivitas
dan istirahat.
3. Kebutuhan Eliminasi : BAB/BAK
Kebanyakan pasien dapat
melakukan BAK secara spontan dalam 8 jam setelah melahirkan. Selama kehamilan
terjadi peningkatan ektraseluler 50%. Setelah melahirkan cairan ini dieliminasi
sebagai urine. Umumnya pada partus lama yang kemudian diakhiri dengan ektraksi
vakum atau cunam, dapat mengakibatkan retensio urine. Bila perlu, sebaiknya
dipasang dower catheter untuk memberi istirahat pada otot-otot kandung kencing.
Dengan demikian, jika ada kerusakan-kerusakan pada otot-otot kandung kencing,
otot-otot cepat pulih kembali sehingga fungsinya cepat pula kembali.Buang air
besar (BAB) biasanya tertunda selama 2 sampai 3 hari setelah melahirkan karena
enema prapersalinan, diit cairan, obat-obatan analgesik selama persalinan dan
perineum yang sakit. Memberikan asupan cairan yang cukup, diet yang tinggi
serat serta ambulasi secara teratur dapat membantu untuk mencapai regulasi BAB.
4. Kebersihan
diri/perineum
Kebersihan diri ibu
membantu mengurangi sumber infeksi dan meningkatkan perasaan nyaman pada ibu.
Anjurkan ibu unutuk menjaga kebersihan diri dengan cara mandi yang teratur
minimal 2 kali sehari, mengganti pakaian dan alas tempat tidur serta lingkungan
dimana ibu tinggal.. Perawatan luka perineum bertujuan
untuk mencegah infeksi, meningkatkan rasa nyaman dan mempercepat penyembuhan.
Perawatan luka perineum dapat dilakukan dengan cara mencuci daerah genital
dengan air dan sabun setiap kali habis BAK/BAB yang dimulai dengan mencuci bagian
depan, baru kenudian daerah anus. Sebelum dan sesudahnya ibu dianjukan untuk
mencuci tangan. Pembalut hendaknya diganti minimal 2 kali sehari. Bila pembalut
yang dipakai ibu bukan pembalut habis pakai, pembalut dapat dipakai kembali
dengan dicuci, dijemur dibawah sinar matahari dan disetrika.
5. Kebutuhan Istirahat
Ibu nifas memerlukan
istirahat yang cukup, istirahat tidur yang dibutuhkan ibu nifas sekitar 8 jam
pada malam hari dan 1 jam pada siang hari.
6. Hubungan
Seksual
Hubungan seksual dapat
dilakukan dengan aman ketika luka episiotomi telah sembuh dan lokea telah
berhenti. Hendaknya pula hubungan seksual dapat ditunda sedapat mungkin sampai
40 hari setelah persalinan, karena pada waktu itu diharapkan organ-organ tubuh
telah pulih kembali. Ibu mengalami ovulasi dan mungkin mengalami kehamilan
sebelum haid yang pertama timbul setelah persalinan. Untuk itu bila senggama
tidak mungkin menunggu sampai hari ke-40, suami/istri perlu melakukan usaha
untuk mencegah kehamilan. Pada saat inilah waktu yang tepat untuk memberikan
konseling tentang pelayanan KB.
7. Latihan
senam nifas
Pada saat hamil otot
perut dan sekitar rahim serta vagina telah teregang dan melemah. Latihan senam
nifas dilakukan untuk membantu mengencangkan otot-otot tersebut. Hal ini untuk
mencegah terjadinya nyeri punggung dikemudian hari dan terjadinya kelemahan
pada otot panggul sehingga dapat mengakibatkan ibu tidak bisa menahan BAK.
Latihan senam nifas yang dapat dilakukan antara
lain :
1.
Senam otot dasar panggul (dapat
dilakukan setelah 3 hari pasca persalinan)
Langkah-langkah senam otot dasar
panggul:
o Kerutkan/
kencangkan otot sekitar vagina, seperti kita menahan BAK selama 5 detik,
kemudian kendorkan selama 3 detik, selanjutnya kencangkan lagi. Mulailah dengan
10 kali 5 detik pengencangan otot 3 kali sehari
o Secara
bertahap lakukan senam ini sampai mencapai 30-50 kali 5 detik dalam sehari.
2.
Senam otot perut ( dilakukan setelah 1
minggu nifas)
Senam ini dilakukan dengan posisi berbaring dan lutut tertekuk pada alas yang datar dan keras. Mulailah dengan melakukan 5 kali per hari untuk setiap jenis senam di bawah ini. Setiap minggu tambahkan frekuensinya dengan 5 kali lagi, maka pada akhir masa nifas setiap jenis senam ini dilakukan 30 kali.
Langkah-langkah senam otot perut :
Senam ini dilakukan dengan posisi berbaring dan lutut tertekuk pada alas yang datar dan keras. Mulailah dengan melakukan 5 kali per hari untuk setiap jenis senam di bawah ini. Setiap minggu tambahkan frekuensinya dengan 5 kali lagi, maka pada akhir masa nifas setiap jenis senam ini dilakukan 30 kali.
Langkah-langkah senam otot perut :
a.
Menggerakkan panggul
o Ratakan
bagian bawah punggung dengan alas tempat berbaring.
o Keraskan
otot perut/panggul, tahan sampai 5 hitungan, bernafas biasa.
o Otot
kembali relaksasi, bagian bawah ounggung kembali ke posisi semula.
b.
Bernafas dalam
o Tariklah
nafas dalam-dalam dengan tangan diatas perut.
o Perut
dan tangan diatasnya akan tertarik keatas. Tahan selama 5 detik.
o Keluarkan
nafas panjang.
o Perut
dan tangan diatasnya akan terdorong kebawah.
o Kencangkan
otot perut dan tahan selama 5 detik.
c.
Menyilangkan tungkai
o
Lakukan posisi seperti pada langkah A
o
Pada posisi tersebut, letakkan tumit ke
pantat.
o
Bila hal ini tak dapat dilakukan, maka
dekatkan tumit ke pantat sebisanya.
o Tahan
selama 5 detik, pertahankan bagian bawah punggung tetap rata.
d.
Menekukkan tubuh
o
Lakukan posisi seperti langkah A
o
Tarik nafas dengan menarik dagu dan
mengangkat kepala.
o
Keluarkan nafas dan angkat kedua bahu
untuk mencapai kedua lutut.
o
Tahan selama 5 detik.
o Tariklah
nafas sambil kembali ke posisi dalam 5 hitungan.
e.
Bila kekuatan tubuh semakin baik, lakukan
sit-up yang lebih sulit.
o
Dengan kedua lengan diatas dada
o
Selanjutnya tangan di belakang kepala
o
Ingatlah untuk tetap mengencangkan otot
perut
o
Bagian bawah punggung tetap menempel
pada alas tempat berbaring.
Catatan :
Bila ibu merasa pusing, merasa sangat lelah atau darah nifas yang keluar bertambah banyak, ibu sebaiknya menghentikan latihan senam nifas. Mulai lagi beberapa hari kemudian dan membatasi pada latihan senam yang dirasakan tidak terlalu melelahkan.
L. Perubahan Fisik Yang Terjadi Saat Nifas
KEADAAN UMUM:
1.
Beberapa parturien menggigil segera
setelah melahirkan namun suhu tubuh tidak berubah.
2.
Frekuensi nadi melambat, normal atau
menjadi cepat akan tetapi tidak diatas 100 dpm
3.
Tekanan darah bervariasi, dalam keadaan
normal tidak melebihi 140 / 90 mmHg
4.
Berat badan menurun rata-rata 8 kg
pasca persalinan, penurunan berat badan lebih lanjut merupakan akibat involusi
uterus, diuresis dan tergantung apakah memberikan ASI atau tidak.
2. KULIT:
1.
Peningkaan pigmentasi didaerah wajah,
dinding abdomen dan vulva mereda namun biasanya areola mammae menjadi semakin
berwarna gelap dibandingkan sebelum kehamilan.
2.
Setelah terjadi diuresis, edema mulai
menghilang dalam beberapa hari.
3.
Beberapa hari setelah melahirkan
terjadi pengeluaran keringat yang berlebihan.
(14)
3. DINDING PERUT:
1.
Dinding abdomen menjadi lembek (kendor
dan keriput) dan terjadi divarikasi otot abdomen.
2.
Striae gravidarum, bila ada maka
gambaran ini tidak lenyap akan tetapi berubah menjadi merah.
4. TRAKTUS GASTRO INTESTINAL
1.
Sering merasa haus.
2.
Nafsu makan bervariasi dari anoreksia
sampai ‘rakus’
3.
Perut sering kembung dan buang angin
(flatus).
4.
Beberapa pasien mengeluh terjadinya
sembelit akibat penurunan tonus usus selama hamil, berkurangnya asupan makanan
selama persalinan dan pemberian enema saat persalinan. Konstipasi ini sering
terjadi pada pasien episiotomi atau wasir yang hebat.
5. TRAKTUS URINARIUS:
1.
Sering terjadi retensio urine yang
merupakan akibat penurunan tonus kandung kemih selama kehamilan dan edema
urethra akibat persalinan. Disuria dan kesulitan pasase urine menyebabkan
retensio urine total atau terjadi rentensio dengan inkontinensia. Kandung kemih
penuh mengganggu kontraksi uterus.
2.
Diuresis terjadi pada hari kedua dan
ketiga masa nifas. Pada penderita edema, diuresis terjadi segera setelah
persalinan.
3.
Inkontinesia (kebocoran urine) sering
terjadi saat pasien tertawa atau batuk. Inkontinensia dapat terjadi sejak saat
kehamilan dan berlanjut sampai masa nifas. Inkontinensia urine dapat menjadi
semakin berat namun biasanya dapat diatasi dengan latihan otot dasar panggul..
.
6. DARAH:
1.
Nilai kadar Hb stabil dalam jangka
waktu 4 hari.
2.
Kadar trombosit meningkat dan trombosit
menjadi lebih bergerombol dari hari ke 4 sampai 10 pasca persalinan. Keadaan
ini dan gangguan pembekuan darah lain mempermudah terjadinya tromboemboli pada
masa nifas.
(15)
7. PAYUDARA:
Terjadi perubahan menonjol saat
nifas adalah akibat proses menghasilkan ASI.
8.
TRAKTUS GENITALIS:
Selama masa nifas terjadi perubahan traktus genitalis yang jelas:
1.
VULVA: vulva membengkak dan
terbendung pasca persalinan, namun keadaan ini dengan cepat akan hilang.
Robekan jalan lahir dan luka episiotomi biasanya mudah sembuh
2.
VAGINA: sesaat setelah
persalinan, vagina dalam keadaan lebar, dindingnya lebih rata, edematous dan
terbendung. Ukuran dan ruggae vagina akan kembali normal dalam jangka waktu 3
minggu. Dinding vagina lebih kendor dibandingkan sebelumnya dan kadang-kadang
mengalami prolapsus vaginae sehingga terjadi sistokel atau rektokel. Robekan
kecil pada vagina sembuh dalam jangka waktu 7 – 10 hari.
3.
SERVIK: Setelah persalinan
pervaginam pertama, ostium uteri eksternum primipara memperlihatkan gambaran
terbelah. Beberapa hari pertama pasca persalinan, servik praktis masih dalam
keadaan terbuka dan dalam jangka waktu 7 hari ostium servik seharusnya sudah
menutup kembali.
4.
UTERUS:
Perubahan terpenting adalah involusi
uterus. Segera setelah persalinan, ukuran uterus adalah sebesar kehamilan 20
minggu. Pada akhir minggu pertama ukuran uterus kira-kira setara dengan
kehamilan 12 – 14 minggu dan setelah 14 hari, uterus tidak lagi dapat diraba.
Berkurangnya ukuran uterus dsebabkan oleh kontraksi dan retraksi otot uterus.
Desidua mengalami nekrosis akibat iskemia dan terkelupas dalam bentuk lochia.
Lochia rubra (merah) berlangsung sekitar 24 hari dan kemudian menjadi lochia
alba (putih). Lochia yang berbau busuk menunjukkan adanya abn
M. Permasalahan Terkait Nifas
Mengeluarkan
darah
Kebanyakan ibu telah mengetahui bahwa dirinya akan mengeluarkan darah selama
masa nifas. Namun, beberapa ibu
masih saja khawatir melihat banyaknya darah, terutama ketika alirannya deras
dan tiba-tiba pada saat bangun tidur pada hari-hari awal setelah melahirkan.
Jangan khawatir, karena itu merupakan suatu proses yang normal terjadi.
Ibu juga tidak perlu khawatir ketika nampaknya jumlah pengeluaran
darah sudah berkurang selama satu atau dua hari namun tiba-tiba mengalir lagi
dengan deras. Hal tersebut biasanya terjadi karena ibu kecapekan setelah
melakukan aktivitas tertentu. Oleh karena itu, ibu perlu segera beristirahat,
mengingat kondisinya yang masih lemahenindaklanjuti jika ada keluhan-keluhan
setelah melahirkan.
Infeksi nifas
Selama nifas, ibu akan mengeluarkan cairan yang berasal dari
rahim, cairan ini disebut “lokia”. Pada hari pertama dan kedua ibu akan
mengeluarkan lokia rubra atau lokia kruenta,
berupa darah segar bercampur sisa selaput ketuban dan lain-lain. Hari
berikutnya keluar lokia sanguinolenta, berupa darah bercampur
lendir. Setelah satu pekan, keluar lokia serosa yang berwarna
kuning dan tidak mengandung darah. Setelah dua pekan, keluar lokia alba yang
hanya berupa cairan putih. Biasanya lokia berbau agak amis.
Bila berbau busuk, mungkin terjadi lokiostasis (lokia tidak
lancar keluar) dan infeksi.
Salah satu kelainan yang dapat ditemukan setelah melahirkan
(selama nifas) adalah “infeksi nifas” atau dalam istilah medis disebut juga “infeksi puerperalis”.
Infeksi nifas adalah infeksi bakteri pada saluran genital
(kemaluan) yang terjadi setelah melahirkan yang ditandai dengan kenaikan suhu
tubuh sampai 38°C atau lebih selama dua hari, terjadi dalam sepuluh hari
setelah melahirkan tapi dengan mengecualikan 24 jam pertama.Setelah melahirkan,
organ reproduksi ibu berangsur-angsur akan pulih kembali seperti keadaan
sebelum hamil. Suhu badan setelah melahirkan dapat naik lebih dari 0,5°C dari
keadaan normal (36-37°C) tapi tidak lebih dari 39°C. Sesudah 12 jam pertama
melahirkan umumnya suhu badan kembali normal. Bila lebih dari 38°C, harus
dipikirkan kemungkinan terjadinya infeksi nifas.
Tanda-tanda infeksi nifas sangat bervariasi tergantung bagian yang
terinfeksi dan keparahannya. Jika ditemui tanda-tanda berikut ini, segeralah
membawa ibu ke tempat pelayanan kesehatan untuk mendapat penanganan yang
sesuai:
·
Demam tinggi (38°C atau lebih), kadang disertai menggigil.
·
Rasa panas dan nyeri pada tempat infeksi
·
Kadang-kadang terasa perih saat buang air kecil.
·
Ibu terlihat sakit dan sangat lemah
Tidak setiap ibu yang melahirkan mengalami infeksi nifas. Kondisi
tiap ibu yang melahirkan memang bisa berbeda, ada yang baik-baik saja tanpa
masalah, namun ada pula yang mengalami berbagai masalah terkait dengan kondisi
kesehatannya. Beberapa faktor risiko yang memperbesar kemungkinan terjadinya
infeksi nifas, antara lain:
·
Setiap keadaan yang menurunkan daya tahan tubuh ibu,seperti
perdarahan, kelelahan, gizi buruk, preeklamsi, eklamsi, infeksi lain yang
diderita ibu, penyakit jantung, TBC paru, pneumonia, dan lain-lain.
·
Ibu dengan proses persalinan lama, persalinan yang tidak terduga
(mendadak) sehingga kurang tertangani dengan baik
·
Kemungkinan infeksi panggul setelah melahirkan yang serius,
berhubungan dengan lamanya ketuban pecah sebelum melahirkan.
·
Luas serta banyaknya luka guntingan atau robekan ketika proses
persalinan
·
Ibu yang menjalani tindakan operasi, baik lewat jalan lahir maupun
perut.
·
Tertinggalnya sisa ari-ari, selaput ketuban, atau bekuan darah
dalam rahim.
Setelah mengetahui bahaya infeksi nifas yang mungkin saja terjadi,
alangkah lebih baik jika kita menempuh cara-cara untuk mencegahnya. Ada
beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi nifas, antara
lain :
·
Sebaiknya ibu memperhatikan kondisi kesehatannya selama hamil,
segera periksa ke bidan atau dokter jika ada keluhan.
·
Minum suplemen zat besi secara teratur untuk mencegah terjadinya
anemia.
·
Konsumsi makanan yang bersih, sehat, cukup kalori, protein, dan
serat (sayur, buah).
·
Minum air dalam jumlah yang cukup.
·
Ibu hendaknya memilih tenaga penolong persalinan yang terlatih,
supaya proses persalinan terjamin kesterilannya.
·
Harus menjaga kebersihan dan memberi perawatan khusus jika terjadi
perlukaan seperti di tempat jahitan pada jalan lahir maupun perut (operasi
cesar)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar