Kamis, 27 September 2012

Masa Nifas



A.  Pengertian Masa Nifas
1.  Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan
2.  Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu Bari,2000:122).
3.  Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang normal. (F.Gary cunningham,Mac Donald,1995:281).
4.  Masa nifas adalah masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan untuk memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6- 12 minggu. ( Ibrahim C, 1998).
5.  Nifas adalah Perubahan yang terjadi pada ibu hamil setelah melahirkan. Biasanya masa nifas ini adalah masa dimana rahim mengeluarkan darah yang terus menerus saat kontraksi agar perut dapat mengecil seperti keadaan semula. Semakin rahim berkontraksi, maka rahim akan terus mengeluarkan darah. Hal ini akan dialami oleh ibu setelah melahirkan. Keluarnya darah pada ibu setelah melahirkan ini banyak sekali, tetapi hal ini sudah lumrah terjadi pada ibu setelah melahirkan. Keadaan ini biasanya terjadi 2 jam setelah melahirkan sampai 40 hari setelah melahirkan yang disebut masa nifas.
6.  Keadaan seperti ini akan terus diobservasi dan dipantau selama 2 jam setelah melahirkan agar perdarah yang keluar dapat diketahui. selain mengobservasi keluarnya darah, bidan juga akan terus mengobservasi kandung kemih( kantong kencing ), makan dan minum ibu, kontrakasi uterus ( rahim ), tanda-tanda vital ( mengukur tekanan darah ibu, mengukur suhu tubuh ibu, megukur nadi ibu, dan pernafasan ibu ), pergerakan ibu ( miring kanan dan miring kiri ) dan berjalan gunanya agar perdarahan dapat berkurang karena rahim akan terus berkontraksi.
                                              




7.     Setelah 2 jam mengobservasi keadaan ibu, bidan pasti akan mencatat keadaan ibu gunanya untuk melakukan rencana tindakan selanjutnya yang akan dilakukan pada ibu. jika keadaan ibu baik-baik saja dan rahim berkontraksi dengan baik maka tindakan selanjutnya akan dilakukan, tetapi jika keadaan ibu semakin melemah dan perdarahan tidak berhenti dan rahim tidak berkontraksi, anjurkan ibu untuk BAK ( Buang Air kecil ), agar darah yang akan keluar tidak tehambat, tetapi jika msh tetap terjadi, maka bidan akan melalukan tindakan seperti mengeluarkan urin dengan mamasukan selang kencing melalui lubang kencing, sehingga darah tidak terhambat untuk keluar, setelah itu bidan akan membersihkan dengan memasukan tampon (kasa steril ) agar darah bisa diserap oleh kasa steril. Setelah dibersihkan bidan akan mengobservasi lanjut keadaan pasien. jika perdarah sudah berhenti maka bidan akan melanjutkan observasi 6 jam setelah melahirkan.





B. Tujuan Asuhan Masa Nifas
Tujuan dari pemberian asuhan pada masa nifas untuk :
1.  Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis.
2.  Melaksanakan skrinning secara komprehensif, deteksi dini, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi.
3.  Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, cara dan manfaat menyusui, pemberian imunisasi serta perawatan bayi sehari-hari.
4.  Memberikan pelayanan keluarga berencana.
5.  Mendapatkan kesehatan emosi.
C.   Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas
Bidan memiliki peranan yang sangat penting dalam pemberian asuhan post partum. Adapun peran dan tanggung jawab dalam masa nifas antara lain :
1.  Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas sesuai dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan psikologis selama masa nifas.
2.  Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga.
3.  Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa nyaman.
4.  Membuat kebijakan, perencana program kesehatan yang berkaitan ibu dan anak dan mampu melakukan kegiatan administrasi.
5.  Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan.
6.  Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik, serta mempraktekkan kebersihan yang aman.
7.  Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data, menetapkan diagnosa dan rencana tindakan serta melaksanakannya untuk mempercepat proses pemulihan, mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama priode nifas.
8.  Memberikan asuhan secara professional

 D.Tahapan Masa Nifas
Masa nifas terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu :
1.  Puerperium dini
Suatu masa kepulihan dimana ibu diperbolehkan untuk berdiri dan berjalan-jalan.
2.  Puerperium intermedial
Suatu masa dimana kepulihan dari organ-organ reproduksi selama kurang lebih enam minggu.
3.  Remote puerperium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dlam keadaan sempurna terutama ibu bila ibu selama hamil atau waktu persalinan mengalami komplikasi.
E.   Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
Kebijakan program nasional pada masa nifas yaitu paling sedikit empat kali melakukan kunjungan pada masa nifas, dengan tujuan untuk :
1.  Menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi.
2.  Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya gangguan kesehatan ibu nifas dan bayinya.
3.  Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi pada masa nifas.
4.  Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan mengganggu kesehatan ibu nifas maupun bayinya.

Masa nifas: mulai setelah persalinan selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Seluruh alat genitalia baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan. Perubahan-perubahan pada alat genitalia (dalam & luar) secara keseluruhannya disebut involusi. Disamping involusi terjadi juga hemokonsentrasi dan laktasi. Laktasi terjadi karena pengaruh Lactogenic Hormone dari kelenjar hipofise (klik ‘tuk lihat gambar) terhadap kelenjar-kelenjar payudara. Setelah janin lahir, besar rahim kira-kira setinggi pusat ibu, segera setelah plasenta lahir, tinggi besar rahim lk (lebih kurang) 2 jari di bawah pusat.Pada hari ke-5 paska melahirkan rahim lk setinggi 7 cm diatas tulang kemaluan atau setengah jarak tulag kemlauan – pusat, sesudah 12 hari rahim tidak dapat diraba lagi di atas tulng kemaluan.
F.    Hemokonsentrasi
Hemokonsentrasi artunya darah ibu mulai mengental lagi setelah sebelumnya pada waktu kehamilan megalami hemodilusi (pengenceran). Pada kehamilan terdapat hubungan antara sirkulasi ibu & plasenta. Setelah melahirkan, hubungan tersebut hilang tiba-tiba. Volume darah pada ibu relatif bertambah. Keadaan ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi dengan timbulnya hemokonsentrasi yang terjadi pada hari-hari ke 3-15 hari post partum.
Perubahan yang terdapat pada kedua payudara sejak kehamilan muda: meningkatnya jumlah jaringan payudara terutama kelenjar-kelenjar dan lemak, dtemukan colostrum (ASI awal) pada saluran di payudara, pembuluh darah yang bertambah. Pengaruh hormon-hormon hipofisis kembali muncul, antara lain lactogenic hormone. Pengaruh oksitosin mengakibatkan kelenjar-kelenjar susu berkontraksi, sehingga terjadi pengeluaran ASI. Umumnya produksi asi yang sebetulnya hari ke 2-3. Pada hari-hari I ASI hanya berupa colostrums Rangsangan psikis merupakan refleks dari mata ibu ke otak, mengakibatkan oksitosin dhasilkan, sehingga ASI dapat dikeluarkan dan sebagai efek sampingan rahim menajdi semakin keras berkontraksi                         
Dengan memberi ASI akan bertambah rasa kasih sayang antara ibu dan anak. ASI juga dapat melindungi bayi terhadap infeksi seperti: usus, paru2 dan telinga karena ASI mengandung lactoferin, lysozyme & imunogbulin A.
·     Lokia                     = sekret yang berasal dari rongga rahim dan vagina dalam masa nifas.
·     Hari I                     = lokia nigra/ lokia kruenta: darah segar + sisa-sisa selaput ketuban, sisa-sisa vernix caseosa (lemak2 bayi), lanugo (bulu bayi) & mekonium (pub bayi).
·     Hari 2 – 6 hari       = lokia sanguilenta (merah kental)
·     Minggu 1 – 2         = lokia serosa (bening)
·     > 2 mg                   = lokia alba (putih)
Biasanya lokia berbau sedikit amis, jika terdapat infeksi, akan berbau busuk.
H. Perawatan Post Partum
Dimulai sejak kala ini dengan menghindarkan kemungkinan perdarahan & infeksi. Bila ada laserasi jalan lahir/ luka bekas episiotomi, lakukan penjahitan & perawatan luka sebaik-baiknya 8 jam post partum wanita harus tidur telentang untuk mencegah terjadinya perdarahan sesudah 8 jam, badan miring kiri dan kanan untuk mencegah trombosis. Ibu dan bayi bisa diletakkan dalam 1 kamar (rooming in) atau terpisah. Pada hari ke-2 bila perlu dapat dilakukan latihan-latihan senam. Hari ke-3 duduk, ke-4 berjalan, ke-5 dapat dipulangkan. Diet yang diberikan harus bermutu tinggi dengan cukup kalori, cukup protein, cairan serta buah-buahan karena wanita mengalami hemokosentrasi. Miksi atau berkemih harus cepat dapat dilakukan sendiri. Bila kandung kencing penuh & wanita tidak dapat berkemih sendiri, sebaiknya dilakukan kateterisasi dengan memperhatikan jangan sampai infeksi.Umumnya partus lama, yang kemudian diakhiri dengan ekstraksi valcum/ cunam, dapat mengakibatkan hal-hal yang demikian sampai terjadi retensio urin. Bila perlu, sebaiknya dipasang dawer catheter/ indwelling catheter untuk memberi istirahat pada otot-otot kandung kencing.
 Dengan demikian, jika ada kerusakan-kerusakan pada otot-otot kandung kencing, otot-otot cepat pulih kembali sehingga tugasnya cepat pula kembali. Defekasi (boker) harus ada 3 hari paska melahirkan. Bila ada obstipasi, dapat diberikan pencahar seperti SOLAC (sponsor). Bila terdapat after pain/ mules dapat diberikan analgetika/ sedativa supaya dapat tidur. Delapan jam paska melahirkan ibu disuruh menyusui bayi untuk merangsang laktasi.
Ibu tidak boleh menyusukan bayi jika menderita:
·     Penyakit typus
·     TBC aktif
·     Kelainan jantung berat
·     Keracuna tiroid
·     Diabetes berat
·     Gangguan jiwa
·     Puting yang masuk kedalam
·     Morbus hansen (lepra)
I.     Perawatan payudara
Cuci areola payudara & puting susu dengan teratur dengan sabun dan beri minyak/ cream agar tetap lemas. Jangan sampai kelak mudah lecet/ pecah-pecah. Sebelum menyusui payudara harus dibiarkan lemas dengan melakukan message secara menyeluruh. Bersihkan sebelum menyusui. Jika bayi meninggal, laktasi harus dihentikan dengan cara mengadakan pembalutan kedua mamma hingga tertekan & dapat pula diberi obat penekan laktasi bromocryptin sehingga lactogenic hormon tertekan.

J.  Pemeriksaan Paska Melahirkan
1.  Keadaan umum
2.  Keadaan payudara & putingnya
3.  Dinding perut, apakah ada hernia
4.  Keadaan perineum
5.  Kandung kencing, ada sistokel/ uretrokel atau tidak.
6.  Rektum, ada rektokel & pemeriksaan tonus. M. sfingerani.
7.  Adanya fluor albus (keputihan)
8.  Keadaan serviks, uterus & adnexanya.
Perdarahan yang mungkin terjadi dalam masa 40 hari biasa disebabkan oleh adanya subinvolusi uteri (rahim yang lambat mengecil) terhadap penderita tidur dan diberi tablet ergometrin. Bila perdarahan tetap ada, lakukan kuretase untuk menyingkirkan kemungkinan adanya sisa-sisa plasenta. Bila curiga ada keganasan, lakukan pemeriksaan sitologi & eksisi percobaan untuk menyingkirkan keganasan

K.  Kebutuhan Dasar Ibu Nifas


Periode post partum adalah waktu penyembuhan dan perubahan, waktu kembali ke keadaan tidak hamil. Dalam masa nifas, alat-alat genitalia interna maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih seperti ke keadaan sebelum hamil. Untuk membantu mempercepat proses penyembuhan pada masa nifas, maka ibu nifas membutuhkan diet yang cukup kalori dan protein, membutuhkan istirahat yang cukup dsb. Kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan ibu nifas antara lain:

1.     Kebutuhan nutrisi dan cairan

          Ibu nifas memerlukan nutrisi dan cairan untuk pemulihan kondisi kesehatan setelah melahirkan, cadangan tenaga serta untuk memenuhi produksi air susu. Ibu nifas dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan akan gizi sebagai berikut:

1.     Mengkonsumsi makanan tambahan, kurang lebih 500 kalori tiap hari
2.     Makan dengan diet gizi seimbang untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral
3.     Minum sedikitnya 3 liter setiap hari
4.     Mengkonsumsi tablet besi selama 40 hari post partum
5.     Mengkonsumsi vitamin A 200.000 intra unit
Zat-zat yang dibutuhkan ibu pasca persalinan antara lain:
1.       Kalori
Kebutuhan kalori pada masa menyusui sekitar 400-500 kalori. Wanita dewasa memerlukan 1800 kalori per hari. Sebaiknya ibu nifas jangan mengurangi kebutuhan kalori, karena akan mengganggu proses metabolisme tubuh dan menyebabkan ASI rusak.
2.     Protein
Kebutuhan protein yang dibutuhkan adalah 3 porsi per hari. Satu protein setara dengan tiga gelas susu, dua butir telur, lima putih telur, 120 gram keju, 1 ¾ gelas yoghurt, 120-140 gram ikan/daging/unggas, 200-240 gram tahu atau 5-6 sendok selai kacang.
3.     Kalsium dan vitamin D
Kalsium dan vitamin D berguna untuk pembentukan tulang dan gigi. Kebutuhan kalsium dan vitamin D didapat dari minum susu rendah kalori atau berjemur di pagi hari. Konsumsi kalsium pada masa menyusui meningkat menjadi 5 porsi per hari. Satu setara dengan 50-60 gram keju, satu cangkir susu krim, 160 gram ikan salmon, 120 gram ikan sarden, atau 280 gram tahu kalsium.
4.    Magnesium
Magnesium dibutuhkan sel tubuh untuk membantu gerak otot, fungsi syaraf dan memperkuat tulang. Kebutuhan megnesium didapat pada gandum dan kacang-kacangan.
 5.     Sayuran hijau dan buah
Kebutuhan yang diperlukan sedikitnya tiga porsi sehari. satu porsi setara dengan 1/8 semangka, 1/4 mangga, ¾ cangkir brokoli, ½ wortel, ¼-1/2 cangkir sayuran hijau yang telah dimasak, satu tomat
Selama menyusui, kebutuhan karbohidrat kompleks diperlukan enam porsi per hari. Satu porsi setara dengan ½ cangkir nasi, ¼ cangkir jagung pipil, satu porsi sereal atau oat, satu iris roti dari bijian utuh, ½ kue muffin dari bijian utuh, 2-6 biskuit kering atau crackers, ½ cangkir kacang-kacangan, 2/3 cangkir kacang koro, atau 40 gram mi/pasta dari bijian utuh.
7.     Lemak
Rata-rata kebutuhan lemak dewasa adalah 41/2 porsi lemak (14 gram perporsi) perharinya. Satu porsi lemak sama dengan 80 gram keju, tiga sendok makan kacang tanah atau kenari, empat sendok makan krim, secangkir es krim, ½ buah alpukat, dua sendok makan selai kacang, 120-140 gram daging tanpa lemak, sembilan kentang goreng, dua iris cake, satu sendok makan mayones atau mentega, atau dua sendok makan saus salad.
8.     Garam
Selama periode nifas, hindari konsumsi garam berlebihan. Hindari makanan asin seperti kacang asin, keripik kentang atau acar.
9.  Cairan
Konsumsi cairan sebanyak 8 gelas per hari. Minum sedikitnya 3 liter tiap hari. Kebutuhan akan cairan diperoleh dari air putih, sari buah, susu dan sup.                                          
Kebutuhan vitamin selama menyusui sangat dibutuhkan. Vitamin yang diperlukan antara lain:
Ø Vitamin A yang berguna bagi kesehatan kulit, kelenjar serta mata. Vitamin A terdapat dalam telur, hati dan keju. Jumlah yang dibutuhkan adalah 1,300 mcg.
Ø Vitamin B6 membantu penyerapan protein dan meningkatkan fungsi syaraf. Asupan vitamin B6 sebanyak 2,0 mg per hari. Vitamin B6 dapat ditemui di daging, hati, padi-padian, kacang polong dan kentang.
Ø Vitamin E berfungsi sebagai antioksidan, meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh. Terdapat dalam makanan berserat, kacang-kacangan, minyak nabati dan gandum.
11.    Zinc (Seng)
Berfungsi untuk kekebalan tubuh, penyembuhan luka dan pertumbuhan. Kebutuhan Zinc didapat dalam daging, telur dan gandum. Enzim dalam pencernaan dan metabolisme memerlukan seng. Kebutuhan seng setiap hari sekitar 12 mg. Sumber seng terdapat pada seafood, hati dan daging.
(10)
12.  DHA
DHA penting untuk perkembangan daya lihat dan mental bayi. Asupan DHA berpengaruh langsung pada kandungan dalam ASI. Sumber DHA ada pada telur, otak, hati dan ikan.
2.   Kebutuhan Ambulasi

Sebagian besar pasien dapat melakukan ambulasi segera setelah persalinan usai. Aktifitas tersebut amat berguna bagi semua sistem tubuh, terutama fungsi usus, kandung kemih, sirkulasi dan paru-paru. Hal tersebut juga membantu mencegah trombosis pada pembuluh tungkai dan membantu kemajuan ibu dari ketergantungan peran sakit menjadi sehat. Aktivitas dapat dilakukan secara bertahap, memberikan jarak antara aktivitas dan istirahat.

3.    Kebutuhan Eliminasi : BAB/BAK

Kebanyakan pasien dapat melakukan BAK secara spontan dalam 8 jam setelah melahirkan. Selama kehamilan terjadi peningkatan ektraseluler 50%. Setelah melahirkan cairan ini dieliminasi sebagai urine. Umumnya pada partus lama yang kemudian diakhiri dengan ektraksi vakum atau cunam, dapat mengakibatkan retensio urine. Bila perlu, sebaiknya dipasang dower catheter untuk memberi istirahat pada otot-otot kandung kencing. Dengan demikian, jika ada kerusakan-kerusakan pada otot-otot kandung kencing, otot-otot cepat pulih kembali sehingga fungsinya cepat pula kembali.Buang air besar (BAB) biasanya tertunda selama 2 sampai 3 hari setelah melahirkan karena enema prapersalinan, diit cairan, obat-obatan analgesik selama persalinan dan perineum yang sakit. Memberikan asupan cairan yang cukup, diet yang tinggi serat serta ambulasi secara teratur dapat membantu untuk mencapai regulasi BAB.

4.   Kebersihan diri/perineum

Kebersihan diri ibu membantu mengurangi sumber infeksi dan meningkatkan perasaan nyaman pada ibu. Anjurkan ibu unutuk menjaga kebersihan diri dengan cara mandi yang teratur minimal 2 kali sehari, mengganti pakaian dan alas tempat tidur serta lingkungan dimana ibu tinggal.. Perawatan luka perineum bertujuan untuk mencegah infeksi, meningkatkan rasa nyaman dan mempercepat penyembuhan. Perawatan luka perineum dapat dilakukan dengan cara mencuci daerah genital dengan air dan sabun setiap kali habis BAK/BAB yang dimulai dengan mencuci bagian depan, baru kenudian daerah anus. Sebelum dan sesudahnya ibu dianjukan untuk mencuci tangan. Pembalut hendaknya diganti minimal 2 kali sehari. Bila pembalut yang dipakai ibu bukan pembalut habis pakai, pembalut dapat dipakai kembali dengan dicuci, dijemur dibawah sinar matahari dan disetrika.

5.    Kebutuhan Istirahat

Ibu nifas memerlukan istirahat yang cukup, istirahat tidur yang dibutuhkan ibu nifas sekitar 8 jam pada malam hari dan 1 jam pada siang hari.

6.  Hubungan Seksual

Hubungan seksual dapat dilakukan dengan aman ketika luka episiotomi telah sembuh dan lokea telah berhenti. Hendaknya pula hubungan seksual dapat ditunda sedapat mungkin sampai 40 hari setelah persalinan, karena pada waktu itu diharapkan organ-organ tubuh telah pulih kembali. Ibu mengalami ovulasi dan mungkin mengalami kehamilan sebelum haid yang pertama timbul setelah persalinan. Untuk itu bila senggama tidak mungkin menunggu sampai hari ke-40, suami/istri perlu melakukan usaha untuk mencegah kehamilan. Pada saat inilah waktu yang tepat untuk memberikan konseling tentang pelayanan KB.
7.   Latihan senam nifas

Pada saat hamil otot perut dan sekitar rahim serta vagina telah teregang dan melemah. Latihan senam nifas dilakukan untuk membantu mengencangkan otot-otot tersebut. Hal ini untuk mencegah terjadinya nyeri punggung dikemudian hari dan terjadinya kelemahan pada otot panggul sehingga dapat mengakibatkan ibu tidak bisa menahan BAK.


Latihan senam nifas yang dapat dilakukan antara lain :

1.     Senam otot dasar panggul (dapat dilakukan setelah 3 hari pasca persalinan)

Langkah-langkah senam otot dasar panggul:
o  Kerutkan/ kencangkan otot sekitar vagina, seperti kita menahan BAK selama 5 detik, kemudian kendorkan selama 3 detik, selanjutnya kencangkan lagi. Mulailah dengan 10 kali 5 detik pengencangan otot 3 kali sehari
o  Secara bertahap lakukan senam ini sampai mencapai 30-50 kali 5 detik dalam sehari.

2.     Senam otot perut ( dilakukan setelah 1 minggu nifas)
Senam ini dilakukan dengan posisi berbaring dan lutut tertekuk pada alas yang datar dan keras. Mulailah dengan melakukan 5 kali per hari untuk setiap jenis senam di bawah ini. Setiap minggu tambahkan frekuensinya dengan 5 kali lagi, maka pada akhir masa nifas setiap jenis senam ini dilakukan 30 kali.
Langkah-langkah senam otot perut :
a.     Menggerakkan panggul
o   Ratakan bagian bawah punggung dengan alas tempat berbaring.
o   Keraskan otot perut/panggul, tahan sampai 5 hitungan, bernafas biasa.
o   Otot kembali relaksasi, bagian bawah ounggung kembali ke posisi semula.
b.     Bernafas dalam
o  Tariklah nafas dalam-dalam dengan tangan diatas perut.
o  Perut dan tangan diatasnya akan tertarik keatas. Tahan selama 5 detik.
o  Keluarkan nafas panjang.
o  Perut dan tangan diatasnya akan terdorong kebawah.
o  Kencangkan otot perut dan tahan selama 5 detik.
c.      Menyilangkan tungkai
o   Lakukan posisi seperti pada langkah A
o   Pada posisi tersebut, letakkan tumit ke pantat.
o   Bila hal ini tak dapat dilakukan, maka dekatkan tumit ke pantat sebisanya.
o   Tahan selama 5 detik, pertahankan bagian bawah punggung tetap rata.

d.     Menekukkan tubuh
o   Lakukan posisi seperti langkah A
o   Tarik nafas dengan menarik dagu dan mengangkat kepala.
o   Keluarkan nafas dan angkat kedua bahu untuk mencapai kedua lutut.
o   Tahan selama 5 detik.
o   Tariklah nafas sambil kembali ke posisi dalam 5 hitungan.
e.      Bila kekuatan tubuh semakin baik, lakukan sit-up yang lebih sulit.
o   Dengan kedua lengan diatas dada
o   Selanjutnya tangan di belakang kepala
o   Ingatlah untuk tetap mengencangkan otot perut
o   Bagian bawah punggung tetap menempel pada alas tempat berbaring.

Catatan :
Bila ibu merasa pusing, merasa sangat lelah atau darah nifas yang keluar bertambah banyak, ibu sebaiknya menghentikan latihan senam nifas. Mulai lagi beberapa hari kemudian dan membatasi pada latihan senam yang dirasakan tidak terlalu melelahkan.

L. Perubahan Fisik Yang Terjadi Saat Nifas
KEADAAN UMUM:
1.     Beberapa parturien menggigil segera setelah melahirkan namun suhu tubuh tidak berubah.
2.     Frekuensi nadi melambat, normal atau menjadi cepat akan tetapi tidak diatas 100 dpm
3.     Tekanan darah bervariasi, dalam keadaan normal tidak melebihi 140 / 90 mmHg
4.     Berat badan menurun rata-rata 8 kg pasca persalinan, penurunan berat badan lebih lanjut merupakan akibat involusi uterus, diuresis dan tergantung apakah memberikan ASI atau tidak.
2. KULIT:
1.     Peningkaan pigmentasi didaerah wajah, dinding abdomen dan vulva mereda namun biasanya areola mammae menjadi semakin berwarna gelap dibandingkan sebelum kehamilan.
2.     Setelah terjadi diuresis, edema mulai menghilang dalam beberapa hari.
3.     Beberapa hari setelah melahirkan terjadi pengeluaran keringat yang berlebihan.
(14)
3. DINDING PERUT:
1.     Dinding abdomen menjadi lembek (kendor dan keriput) dan terjadi divarikasi otot abdomen.
2.     Striae gravidarum, bila ada maka gambaran ini tidak lenyap akan tetapi berubah menjadi merah.
4. TRAKTUS GASTRO INTESTINAL
1.     Sering merasa haus.
2.     Nafsu makan bervariasi dari anoreksia sampai ‘rakus’
3.     Perut sering kembung dan buang angin (flatus).
4.     Beberapa pasien mengeluh terjadinya sembelit akibat penurunan tonus usus selama hamil, berkurangnya asupan makanan selama persalinan dan pemberian enema saat persalinan. Konstipasi ini sering terjadi pada pasien episiotomi atau wasir yang hebat.
5. TRAKTUS URINARIUS:
1.     Sering terjadi retensio urine yang merupakan akibat penurunan tonus kandung kemih selama kehamilan dan edema urethra akibat persalinan. Disuria dan kesulitan pasase urine menyebabkan retensio urine total atau terjadi rentensio dengan inkontinensia. Kandung kemih penuh mengganggu kontraksi uterus.
2.     Diuresis terjadi pada hari kedua dan ketiga masa nifas. Pada penderita edema, diuresis terjadi segera setelah persalinan.
3.     Inkontinesia (kebocoran urine) sering terjadi saat pasien tertawa atau batuk. Inkontinensia dapat terjadi sejak saat kehamilan dan berlanjut sampai masa nifas. Inkontinensia urine dapat menjadi semakin berat namun biasanya dapat diatasi dengan latihan otot dasar panggul.. .
6. DARAH:
1.     Nilai kadar Hb stabil dalam jangka waktu 4 hari.
2.     Kadar trombosit meningkat dan trombosit menjadi lebih bergerombol dari hari ke 4 sampai 10 pasca persalinan. Keadaan ini dan gangguan pembekuan darah lain mempermudah terjadinya tromboemboli pada masa nifas.

(15)
7. PAYUDARA:
Terjadi perubahan menonjol saat nifas adalah akibat proses menghasilkan ASI.
8.    TRAKTUS GENITALIS:
Selama masa nifas terjadi perubahan traktus genitalis yang jelas:
1.     VULVA: vulva membengkak dan terbendung pasca persalinan, namun keadaan ini dengan cepat akan hilang. Robekan jalan lahir dan luka episiotomi biasanya mudah sembuh
2.    VAGINA: sesaat setelah persalinan, vagina dalam keadaan lebar, dindingnya lebih rata, edematous dan terbendung. Ukuran dan ruggae vagina akan kembali normal dalam jangka waktu 3 minggu. Dinding vagina lebih kendor dibandingkan sebelumnya dan kadang-kadang mengalami prolapsus vaginae sehingga terjadi sistokel atau rektokel. Robekan kecil pada vagina sembuh dalam jangka waktu 7 – 10 hari.
3.     SERVIK: Setelah persalinan pervaginam pertama, ostium uteri eksternum primipara memperlihatkan gambaran terbelah. Beberapa hari pertama pasca persalinan, servik praktis masih dalam keadaan terbuka dan dalam jangka waktu 7 hari ostium servik seharusnya sudah menutup kembali.
4. UTERUS: Perubahan terpenting adalah involusi uterus. Segera setelah persalinan, ukuran uterus adalah sebesar kehamilan 20 minggu. Pada akhir minggu pertama ukuran uterus kira-kira setara dengan kehamilan 12 – 14 minggu dan setelah 14 hari, uterus tidak lagi dapat diraba. Berkurangnya ukuran uterus dsebabkan oleh kontraksi dan retraksi otot uterus. Desidua mengalami nekrosis akibat iskemia dan terkelupas dalam bentuk lochia. Lochia rubra (merah) berlangsung sekitar 24 hari dan kemudian menjadi lochia alba (putih). Lochia yang berbau busuk menunjukkan adanya abn  



M. Permasalahan Terkait Nifas

Mengeluarkan darah
Kebanyakan ibu telah mengetahui bahwa dirinya akan mengeluarkan darah selama masa nifas. Namun, beberapa ibu masih saja khawatir melihat banyaknya darah, terutama ketika alirannya deras dan tiba-tiba pada saat bangun tidur pada hari-hari awal setelah melahirkan. Jangan khawatir, karena itu merupakan suatu proses yang normal terjadi.
Ibu juga tidak perlu khawatir ketika nampaknya jumlah pengeluaran darah sudah berkurang selama satu atau dua hari namun tiba-tiba mengalir lagi dengan deras. Hal tersebut biasanya terjadi karena ibu kecapekan setelah melakukan aktivitas tertentu. Oleh karena itu, ibu perlu segera beristirahat, mengingat kondisinya yang masih lemahenindaklanjuti jika ada keluhan-keluhan setelah melahirkan.

Infeksi nifas
Selama nifas, ibu akan mengeluarkan cairan yang berasal dari rahim, cairan ini disebut “lokia”. Pada hari pertama dan kedua ibu akan mengeluarkan lokia rubra atau lokia kruenta, berupa darah segar bercampur sisa selaput ketuban dan lain-lain. Hari berikutnya keluar lokia sanguinolenta, berupa darah bercampur lendir. Setelah satu pekan, keluar lokia serosa yang berwarna kuning dan tidak mengandung darah. Setelah dua pekan, keluar lokia alba yang hanya berupa cairan putih. Biasanya lokia berbau agak amis. Bila berbau busuk, mungkin terjadi lokiostasis (lokia tidak lancar keluar) dan infeksi.
Salah satu kelainan yang dapat ditemukan setelah melahirkan (selama nifas) adalah “infeksi nifas” atau dalam istilah medis disebut juga “infeksi puerperalis”.                                         
Infeksi nifas adalah infeksi bakteri pada saluran genital (kemaluan) yang terjadi setelah melahirkan yang ditandai dengan kenaikan suhu tubuh sampai 38°C atau lebih selama dua hari, terjadi dalam sepuluh hari setelah melahirkan tapi dengan mengecualikan 24 jam pertama.Setelah melahirkan, organ reproduksi ibu berangsur-angsur akan pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Suhu badan setelah melahirkan dapat naik lebih dari 0,5°C dari keadaan normal (36-37°C) tapi tidak lebih dari 39°C. Sesudah 12 jam pertama melahirkan umumnya suhu badan kembali normal. Bila lebih dari 38°C, harus dipikirkan kemungkinan terjadinya infeksi nifas.
Tanda-tanda infeksi nifas sangat bervariasi tergantung bagian yang terinfeksi dan keparahannya. Jika ditemui tanda-tanda berikut ini, segeralah membawa ibu ke tempat pelayanan kesehatan untuk mendapat penanganan yang sesuai:
·     Demam tinggi (38°C atau lebih), kadang disertai menggigil.
·     Rasa panas dan nyeri pada tempat infeksi
·     Kadang-kadang terasa perih saat buang air kecil.
·     Ibu terlihat sakit dan sangat lemah
Tidak setiap ibu yang melahirkan mengalami infeksi nifas. Kondisi tiap ibu yang melahirkan memang bisa berbeda, ada yang baik-baik saja tanpa masalah, namun ada pula yang mengalami berbagai masalah terkait dengan kondisi kesehatannya. Beberapa faktor risiko yang memperbesar kemungkinan terjadinya infeksi nifas, antara lain:
·         Setiap keadaan yang menurunkan daya tahan tubuh ibu,seperti perdarahan, kelelahan, gizi buruk, preeklamsi, eklamsi, infeksi lain yang diderita ibu, penyakit jantung, TBC paru, pneumonia, dan lain-lain.
·         Ibu dengan proses persalinan lama, persalinan yang tidak terduga (mendadak) sehingga kurang tertangani dengan baik
·         Kemungkinan infeksi panggul setelah melahirkan yang serius, berhubungan dengan lamanya ketuban pecah sebelum melahirkan.
·         Luas serta banyaknya luka guntingan atau robekan ketika proses persalinan
·         Ibu yang menjalani tindakan operasi, baik lewat jalan lahir maupun perut.
·         Tertinggalnya sisa ari-ari, selaput ketuban, atau bekuan darah dalam rahim.
Setelah mengetahui bahaya infeksi nifas yang mungkin saja terjadi, alangkah lebih baik jika kita menempuh cara-cara untuk mencegahnya. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi nifas, antara lain :
·       Sebaiknya ibu memperhatikan kondisi kesehatannya selama hamil, segera periksa ke bidan atau dokter jika ada keluhan.
·       Minum suplemen zat besi secara teratur untuk mencegah terjadinya anemia.
·       Konsumsi makanan yang bersih, sehat, cukup kalori, protein, dan serat (sayur, buah).
·       Minum air dalam jumlah yang cukup.
·       Ibu hendaknya memilih tenaga penolong persalinan yang terlatih, supaya proses persalinan terjamin kesterilannya.
·       Harus menjaga kebersihan dan memberi perawatan khusus jika terjadi perlukaan seperti di tempat jahitan pada jalan lahir maupun perut (operasi cesar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar