I. PENDAHULUAN
SEMUA
PENYAKIT MEMPUNYAI DASAR BIOKIMIAWI
|
1.
|
Penyebab fisik :
trauma mekanik, suhu yang tinggi
atau rendah, perubahan mendadak dalam tekanan atmosfer, radiasi, shock
listrik
|
|
2.
|
Penyebab kimia dan obat-obatan :
senyawa toksik tertentu, preparat
obat,dll
|
|
3.
|
Penyebab biologis :
virus, ricketsia, bakteri, fungsi,
bentuk parasit yang lebih tinggi
|
|
4.
|
Kekurangan oksigen :
perubahan sirkuasi darah,
penurunan kemampuan darah untuk mengangkut oksigen, keracunan pada
enzim-enzim oksidatif dll
|
|
5.
|
Penyebab genetic :
congenital, molekuler
|
|
6.
|
Reaksi imunologi :
anafilaksis, penyakit autoimun
|
|
7.
|
Gangguan keseimbangan gizi :
defisiensi gizi, kelebihan gizi
|
|
8.
|
Gangguan keseimbangan hormonal :
defisiensi hormonal, reproduksi
hormone berlebihan
|
PENGGUNAAN
BIOKIMIA DALAM PEMERIKSAAN PENYAKIT
|
|
PENGGUNAAN
|
CONTOH
|
|
1.
|
Mengungkap penyebab fundamental
dan mekanisme terjadinya penyakit
|
Demonstrasi yang memperlihatkan
sifat cacat genetic pada penyakit kistik fibrosis
|
|
2.
|
Menunjukkan pengobatan yang
rasional serta efektif berdasar hasil no. 1 di atas
|
Penggunaan diet rendah fenilalanin
untuk mengobati fenilketonuria
|
|
3.
|
Membantu dalam menegakkan dianosis
penyakit yang spesifik
|
Penggunaan enzim Kreatin Kinase MB
(CKMB) plasma untuk membantu penyakit infark miokard
|
|
4.
|
Sebagai pemeriksanaan screening
untuk diagnosis dini penyakit-penyakit tertentu
|
Penggunaan Tiroksin Darah (TSH)
untuk diagnosis hipotiroidisme congenital neonatal
|
|
5.
|
Memantau perjalanan penyakit
tertentu
|
Penggunaan enzim alanin aminotransferase
(ALT) plasma utk memantau penyakit hepatitis
|
|
6.
|
Menilai respon penyakit terhadap
terapi
|
Pemeriksaaan kadar antigen untuk
pasien yang mendapat terapi karena kanker colon
|
TUBUH
MANUSIA TERSUSUN DARI BEBERAPA UNSUR YANG MEMBENTUK
MAKROMOLEKUL
UNSUR
UTAMA TUBUH :
|
|
|
UNSUR
|
PERSENTASE
|
UNSUR
|
PERSENTASE
|
|
KARBON
|
50
|
KALIUM
|
1
|
|
OKSIGEN
|
20
|
SULFUR
|
0.8
|
|
HIDROGEN
|
10
|
NATRIUM
|
0.4
|
|
NITROGEN
|
8.5
|
KHLOR
|
0.4
|
|
KALSIUM
|
4
|
MAGNESIUM
|
0.1
|
|
FOSFOR
|
2.5
|
BESI
|
0.01
|
BIOMOLEKUL
BESAR DAN KOMPLEKS DARI TUBUH MAKHLUK HIDUP YAITU :
|
BIOMOLEKUL
|
UNSUR PEMBANGUN
|
FUNGSI POKOK
|
|
ADN
|
Deoksinukleotida
(ribose yang kehilangan –OH pada C ke 3)
|
Bahan
genetik
|
|
ARN
|
Ribonuleotida
|
Template
untuk sintesis protein
|
|
PROTEIN
|
Asam
Amino
|
Aktivitas
enzimatik dan hormonal
|
|
POLISAKARIDA
(GLIKOGEN)
|
Glukosa
|
Sumber
energi yang langsung atau tersimpan sementara (jangka pendek)
|
|
LIPID
|
ASAM
lemak
|
Penyusun
membrane sel dan cadangan makanan (jangka panjang)
|
URUTAN
KEKOMPLEKSAN BIOMOLEKUL
|
Molekul sederhana
|
|
Molekul bahan pembangun
|
|
MAKRO MOLEKUL
|
|
Organel dan agregat Supramolekul
|
|
SEL
|
|
CO
, H2O, NH3, Dll
|
|
Asam
amino, gula sederhana,
Nukleotida,Asam
lemak
|
|
PROTEIN,
Polisakarida,
Asam
inti,
lipida
|
|
Komponen
sel: membrane inti, RE, lisosom dll
|
|
|
BIOMOLEKUL
DISINTESIS DAN DIDEGRADASI MELALUI AKTIVITAS BIOKIMIAWI TUBUH
SINTESIS
DAN DEGRADASI UNSUR/SENYAWAAN TERJADI DALAM SEL
DALAM SEL
|
PROSES
|
|
KATABOLISME
|
|
ANABOLISME
|
|
REAKSI
|
|
REDUKSI
|
|
OKSIDASI
|
|
PERTUKARAN DAN PENGANGKUTAN ZAT
|
|
KELUAR ORGANEL/ SEL / TUBUH
|
|
MASUK ORGANEL/ SEL / TUBUH
|
II. Aspek biokimia yang
berpengaruh dalam reproduksi kesehatan ibu, janin, bayi dan anak
ENZIM
A. PENGERTIAN
:
Asal kata ENZIM = En-zyme yang
berarti ragi (yeast) = KERJA/SATUAN KERJA (ERGON) mulai dikenal Tahun 1877. Enzim
adalah PROTEIN yang khusus disintesis sel untuk BIOKATALISATOR reaksi-reaksi
dalam sel/tubuh makhluk hidup. ENZIM disintesis dalam sel, tetapi komponen
penyusunannya diperoleh dari luar (makanan/minuman bervitamin). ENZIM yang
dikeluarkan dari dalam sel disebut EKSO-ENZIM. ENZIM yang tetap tersimpan dalam
sel disebut ENDO-ENZIM. ENZIM dalam melaksanakan fungsinya sering butuh
KO-FAKTOR. KO-FAKTOR berikatan dengan enzim. IKATAN ko-faktor dengan enzim yang
bersifat TIDAK TETAP disebut GUGUS PROSTETIK. IKATAN ko-faktor dengan enzim
yang bersifat TETAP disebut KO-ENZIM. ENZIM tersusun atas dua komponen yaitu
BAGIAN YANG TERMOLABIL disebut APO-ENZIM dan BAGIAN YANG AKTIF disebut
PROSTETIK/KO-ENZIM
B. JENIS
ENZIM :
Klasifikasi (tatanama) jenis
enzim didasarkan pada NAMA SUBSTRAT YANG DIKATALISIS (contoh: sakarase,
proteinase, dll) atau NAMA JASAD HIDUP PENGHASIL ENZIM (contoh: papain, fisin,
dll), atau JENIS REAKSI PADA PROSES KATALISISNYA.
Klasifikasi yang STANDART adalah
berdasar JENIS REAKSINYA.
ADA 6 JENIS ENZIM:
|
1.
|
OKSIDOREDUKTASE
|
Untuk
reaksi-reaksi oksidasi dan reduksi: Dehidrogenase,
Oksidase
|
|
2.
|
TRANSFERASE
|
Untuk
pemindahan gugus fungsional: Transaminase,
Kinase
|
|
3.
|
HIDROLASE
|
Untuk
reaksi hidrolisis :
Esterase, Peptidase, Fosfatase
|
|
4.
|
LIASE
|
Untuk
penambahan ikatan rangkap:
Fumarase
|
|
5.
|
ISOMERASE
|
Untuk
reaksi isomerasi (pembuatan senyawaan padanan): Alanin rasemase
|
|
6.
|
LIGASE
|
Untuk
penempelan ikatan/senyawaan:
Alanin sintetase
|
TABEL
JENIS DAN FUNGSI ENZIM
|
NO
|
JENIS ENZIM
|
FUNGSI / PERAN
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
1.
|
OKSIDOREDUKTASE
(Reaksi
reduksi–oksidasi)
→→→→→
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
2.
|
TRANSFERASE
(Pemindahan
gugus fungsional)
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
3.
|
HIDROLASE
(Reaksi Hidrolisis)
|
a.
Ester
b.
Ikatan
glikosida
c.
Ikatan
peptide
d.
Ikatan
C-N lain
e.
Anhidrida
asam
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
4.
|
LIASE
(Penambahan
ikatan rangkat atau kebalikan reaksi tersebut)
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
5.
|
ISOMERASE
|
Reaksi
isomerasi
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
6.
|
LIGASE
(Pembentukan
ikatan dengan pembelahan ATP)
|
a.
Pembentukan
ikatan C-O
b.
Pembentukan
ikatan C-S
c.
Pembentukan
ikatan C-N
d.
Pembentukan
ikatan C-C
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
KO-ENZIM
A.
PENGERTIAN
Ko-enzim identik dengan VITAMIN.
Sebagai Ko-faktor ada unsur yang dapat diperoleh/disusun dari dalam tubuh,
tetapi tak sedikit yang tidak dapat disusun tubuh hewan/manusia sehingga perlu
memasukkan dari luar berupa vitamin.
|
NO
|
KO-ENZIM
|
VITAMIN
|
FUNGSI
|
|
1.
|
Nikotinamida
Adenin Dinukleotida (NAD)
|
Asam
Nikotinat (NIASIN)
|
Redoks
|
|
2.
|
Nikotinamida
Adenin Dinukleotida Phosphat (NADP)
|
Asam
Nikotinat (NIASIN)
|
Redoks
|
|
3.
|
Flavin
Adenin Dinukleotida (FAD)
|
Riboflavin
|
Redoks
|
|
4.
|
Flavin
Mononukleotida (FMN)
|
Riboflavin
|
Redoks
|
|
5.
|
Tiamin
Pirofosfat (TPP)
|
Tiamin
|
Oksidatif
dekarboksilasi
|
|
6.
|
Piridoksal
fosfat
|
Piridoksin
(vit.B6)
|
Transaminasi
dan rasemase
|
|
7.
|
Koenzim
A
|
Asam
Pantotenat
|
Transfer
gugus asil
|
|
8.
|
Biotin
|
biotin
|
Transfer
CO2
|
|
9.
|
Koenzim
B12
|
Kobalamin
(vit.B12)
|
Transfer
gugus fungsional
|
B. CARA
KERJA ENZIM :
Enzim
dalam bekerja dipengaruhi oleh :
SUHU,
KEASAMAN (pH), KONSENTRASI ENZIM, KONSENTRASI SUBSTRAT
C. SIFAT
KINETIK ENZIM :
- Enzim berfungsi sebagai katalisator
- Enzim itu suatu protein
- Enzim itu spesifik (khusus)
- Enzim suatu koloid
- Enzim dapat bekerja bolak-balik
- Enzim jumlahnya tidak perlu banyak (cukup)
- Enzim tidak tahan panas
- Enzim bekerja baik pada pH tertentu
Kinetika reaksi enzim berbeda
dengan katalisator buatan manusia.
FUNGSI KHUSUS ENZIM adalah :
1.
Menurunkan energi aktivasi: suatu zat A
oleh fungsi enzim akan berubah menjadi zat B jika zat A mendapatkan energi yang
cukup sehingga berada dalam keadaan aktif yang akhirnya dapat berubah menjadi
zat B
2. Mempercepat
reaksi pada suhu dan tekanan yang optimal TANPA mengubah besarnya tetapan
keseimbangannya: kecepatan reaksi enzim diukur dari jumlah substrat yang dapat
diubah dalam waktu tertentu. Penghitungan kecepatan reaksi enzim digunakan
tetapan MICHAELIS-MENTEN. Kecepatan reaksi enzim dipengaruhi oleh (1) pH, (2)
suhu, (3) konsentrasi enzim maupun substrat, dan (4) adanya
inhibitor/PENGHAMBAT. INHIBITOR ada 2 macam yaitu : inhibitor kompetitif dan
inhibitor nonkompetitif. Contoh inhibitor adalah Racun Cyanida dan Sulfida
3. Mengendalikan
reaksi : tanpa enzim tidak ada reaksi biokimia lebih lanjut
D. REGULASI
& AKTIVITAS ENZIM :
Enzim bekerja dengan regulasi
tertentu. Regulasi enzim dilakukan dengan dua cara : (1) Mekanisme umpan balik,
(2) Pengendalian genetic melalui SINTESIS PROTEIN dalam sel.
III.
Hormon Oksitosin dalam Kehamilan
Pengertian Oksitosin
Oksitosin adalah
suatu hormon yang diproduksi di hipotalamus dan diangkut lewat aliran
aksoplasmik ke hipofisis posterior yang jika mendapatkan stimulasi yang tepat
hormon ini akan dilepas kedalam darah. Hormon ini di beri nama oksitosin
berdasarkan efek fisiologisnya yakni percepatan proses persalinan dengan
merangsang kontraksi otot polos uterus. Peranan fisiologik lain yang dimiliki
oleh hormon ini adalah meningkatkan ejeksi ASI dari kelenjar mammae.
Pengeluaran Oksitosin
Impuls
neural yang terbentuk dari perangsangan papilla mammae merupakan stimulus
primer bagi pelepasan oksitosin sedangkan distensi vagina dan uterus merupakan
stimulus sekunder. Estrogen akan merangsang produksi oksitosin sedangkan
progesterone sebaliknya akan menghambat
produksi oksitosin. Selain di hipotalamus, oksitosin juga disintesis di
kelenjar gonad, plasenta dan uterus mulai sejak kehamilan 32 minggu dan
seterusnya. Konsentrasi oksitosin dan juga aktivitas uterus akan meningkat pada
malam hari.
Pelepasan oksitosin endogenus
ditingkatkan oleh:
a. Persalinan
b. Stimulasi serviks, vagina dan payudara
c. Estrogen yang beredar dalam darah
d. Peningkatan osmolalitas/konsentrasi plasma
e. Volume cairan yang rendah dalam sirkulasi
darah
f. Stress, stress yang disebabkan oleh tangisan
bayi akan menstimulasi pengeluaran ASI
Pelepasan
oksitosin disupresi oleh:
a. Alkohol
b. Relaksin
c. Penurunan osmolalitas/konsentrasi plasma
d. Volume cairan yang tinggi dalam sirkulasi
darah
Mekanisme
Kerja Oksitosin
Pada otot polos uterus. Mekanisme kerja dari oksitosin belum diketahui pasti, hormon ini akan menyebabkan kontraksi otot polos uterus sehingga digunakan dalam dosis farmakologik untuk menginduksi persalinan. Sebelum bayi lahir pada proses persalinan yang timbul spontan ternyata rahim sangat peka terhadap oksitosin Dengan dosis beberapa miliunit permenit intra vena, rahim yang hamil sudah berkontraksi demikian kuat sehingga seakan-akan dapat membunuh janin yang ada didalamnya atau merobek rahim itu sendiri atau kedua-duanya.
Kehamilan
akan berlangsung dengan jumlah hari yang sudah ditentukan untuk masing-masing
spesies tetapi faktor yang menyebabkan berakhirnya suatu kehamilan masih belum diketahui. Pengaruh hormonal
memang dicurigai tetapi masih belum terbukti. Estrogen dan progesterone
merupakan factor yang dicurigai mengingat kedua hormon ini mempengaruhi
kontraktilitas uterus. Juga terdapat bukti bahwa katekolamin turut terlibat dalam
proses induksi persalinan.
Karena
oksitosin merangsang kontraktilitas uterus maka hormon ini digunakan untuk
memperlancar persalinan, tetapi tidak akan memulai persalinan kecuali kehamilan
sudah aterm. Didalam uterus terdapat reseptor oksitosin 100 kali lebih banyak
pada kehamilan aterm dibandingkan dengan kehamilan awal. Jumlah estrogen yang meningkat pada kehamilan aterm
dapat memperbesar jumlah reseptor oksitosin. Begitu proses persalinan dimulai
serviks akan berdilatasi sehinga memulai refleks neural yang menstimulasi
pelepasan oksitosin dan kontraksi uterus selanjutnya. Faktor mekanik seperti
jumlah regangan atau gaya yang terjadi pada otot, mungkin merupakan hal
penting.
Pada kelenjar mammae . Fungsi fisiologik lain yang kemungkinan besar dimiliki oleh oksitosin adalah merangsang kontraksi sel mioepitel yang mengelilingi mammae, fungsi fisiologik ini meningkatkan gerakan ASI kedalam duktus alveolaris dan memungkinkan terjadinya ejeksi ASI.
Reseptor membran untuk
oksitosin ditemukan baik dalam jaringan uterus maupun mammae. Jumlah reseptor
ini bertambah oleh pengaruh estrogen dan berkurang oleh pengaruh progesterone.
Kenaikan kadar estrogen yang terjadi bersamaan dengan penurunan kadar
progester6n dan terlihat sesaat sebelum persalinan mungkin bisa menjelaskan
awal laktasi sebelum persalinan. Derivat progesterone lazim digunakan untuk
menghambat laktasi postpartum pada manusia.
Pada ginjal. ADH dan oksitosin disekresikan secara terpisah kedalam darah bersama neurofisinnya. Kedua hormon ini beredar dalam bentuk tak terikat dengan protein dan mempunyai waktu paruh plasma yang sangat pendek yaitu berkisar 2-4 menit. Oksitosin mempunyai struktur kimia yang sangat mirip dengan Vasopresin/ADH, sebagaimana diperlihatkan dibawah ini:
Cys-Tyr-Phe-Gln-Asn-
Cys-Pro-Arg-Gly-NH2
: Arginin Vasopresin
Cys-Tyr-Phe-Gln-Asn-
Cys-Pro-Lys
-Gly-NH2 : Lisin Vasopresin
Cys-Tyr-Lie-Gln-Asn-
Cys-Pro-Arg-Gly-NH2
: Oksitosin
Masing-masing
hormon ini merupakan senyawa nono apeptida yang mengandung molekul sistein pada
posisi 1 dan 6 yang dihubungkan oleh jembatan S—S. Sebagian besar binatang
menpunyai Arginin Vasopresin, meskipun demikian hormon pada babi dan spesies
lain yang terkait, mempunyai lisin yang tersubtitusi pada posisi 8. Karena
kemiripan structural yang erat tersebut tidaklah mengherankan kalau oksitosin
dan ADH masing-masing memperlihatkan sebagian efek yang sama/tumpang
tindih.
Salah satu efek penting
yang tidak diingini pada oksitosin adalah anti diuresis yang terutama
disebabkan oleh reabsorbsi air. Abdul Karim dan Assali (1961) menunjukan dengan
jelas bahwa pada wanita hamil maupun tidak hamil oksitosin mempunyai aktivitas
anti diuresis. Pada wanita yang mengalami diuresis sebagai akibat pemberian
air, apabila diberikan infus dengan 20 miliunit oksitosin permenit, biasnya
akan mengakibatkan produksi air seni menurun. Kalau dosis ditingkatkan menjadi
40 miliunit permenit, produksi air seni sangat menurun. Dengan dosis yang sama
apabila diberikan dalam cairan dekstorse tanpa elektrolit dalam volume yang
besar akan dapat menimbulkan intoksikasi air. Pada umunnya kalau pemberian
oksitosin dalam dosis yang relatif tinggi dalam jangka waktu yang agak lama
maka lebih baik meningkatkan konsentrasi hormon ini dari pada menambah jumlah
cairan dengan konsentrasi hormon yang rendah . Efek anti diuresis pemberian
oksitosin intravena hilang dalam waktu beberapa menit setelah infus dihentikan.
Pemberian oksitosin im dengan dosis 5-10 unit tiap 15-30 menit juga menimbulkan
anti diuresis tetapi kemungkinan keracunan air tidak terlalu besar karena tidak
desertakan pemberian cairan tanpa elektrolit dalam jumlah besar. Oksitosin dan
hormon ADH memiliki rumus bangun yang sangat mirip , hal ini akan menjelaskan
mengapa fungsi kedua hormon ini saling tumpang tindih. Peptida ini terutama
dimetabolisme dihati, sekalipun eksresi adrenal ADH menyebabkan hilangnya
sebagian hormon ini dengan jumlah yang bermakna dari dalam darah.
Gugus kimia
yang penting bagi kerja oksitosin mencakup gugus amino primer pada sistein
dengan ujung terminal –amino: gugus fenolik pada tirosin ; gugus tiga
carboksiamida pada aspa-ragin, glutamin serta glisinamida; dan ikatan disulfida
(s----s). Delesi atau subtitusi gugus ini pernah menghasilkan sejumlah analog
oksitosin. Sebagai contoh penghapusan gugus amino primer bebas pada belahan
terminal residu sistein menghasilkan desamino oksitosin yang memiliki aktivitas
anti diuretika empat hingga lima kali lebih kuat dari pada aktivitas anti
diuretika hormon oksitosin.
Pada
pembuluh darah . Oksitosin bekerja pada reseptor hormon
antidiuretik (ADH) untuk menyebabkan penurunan tekanan darah khususnya
diastolik karena vasodilatasi. Secher dan kawan-kawan (1978) selalu mendapatkan
adanya penurunan tekanan darah arterial sesaat namun cukup nyata apabila pada wanita
sehat diberikan 10 unit bolus oksitosin secara intravena kemudian segera
diikuti kenaikan kardiak autput yang cepat. Mereka juga menyimpulkan bahwa
perubahan henodinamik ini dapat membahayakan jiwa seorang ibu bila sebelumnya
sudah terjadi hipovolemi atau mereka yang mempunyai penyakit jantung yang
membatasi kardiak autput atau yang mengalami komplikasi adanya hubungan pintas
dari kanan kekiri. Dengan demikian maka oksitosin sebaiknya tidak diberikan
secara intravena dalam bentuk bolus, melainkan dalam larutan yang lebih encer,
dalam bentuk infus atau diberikan suntikan intramuskular.
Oksitosin sintetik
Sekresi
oksitosin endogenus tidak disupresi oleh mekanisme umpan balik negatif, ini
berarti bahwa oksitosin sintetis tidak akan mensupresi pelepasan oksitosin
endogenus. Oksitosin dapat diberikan intramuskular, intravena, sublingual
maupun intranasal. Pemakaian pompa infus dianjurkan untuk pemberian oksitosin
lewat intravena. Oksitosin bekerja satu menit setelah pemberian intravena,
peningkatan kontraksi uterus dimulai segera setelah pemberian . Waktu paruh
oksitosin diperkirakan berkisar 1-20 menit bahkan apabila oksitosin diberikan
itravena maka waktu paruhnya sangat pendek yaitu diperkirakan 3 menit. Data
terakhir menyebutkan sekitar 15 menit. Oksitosin akan dieliminasi dalam waktu
30-40 menit setelah pemberian
Efek samping oksitosin
Bila
oksitosin sintetik diberikan, kerja fisiologis hormon ini akan meningkat
sehingga dapat timbul efek samping yang berbahaya, efek samping tersebut dapat
dikelompokkan menjadi:
a.
Stimulasi berlebih pada uterus
b.
Konstriksi pembuluh darah tali pusat
c. Kerja
anti diuretika
d. Kerja
pada pembuluh darah ( dilatasi )
e. Mual
f. Reaksi hipersensitif
Stimulasi uterus dengan oksitosin pada persalinan hipotonik
Perlu diperhatikan
dulu apakah jalan lahir cukup luas untuk ukuran kepala janin dan apakah kepala
janin juga dalam posisi fleksi yang baik, sehingga diameter yang terkecil
kepala janin yang akan menyesuaikan dengan jalan lahir ( diameter biparietal
dan suboccipitobregmatika ). Suatu kesempitan panggul adalah tidak mungkin bila
semua criteria dibawah ini kita jumpai:
a. Konjugata diagonalis normal
b. Bila dinding lateral panggul sejajar
c. Spina ischiadika tidak menonjol
d. Sakrum tidak mendatar
e. Arkus pubis tidak sempit
f. Bagian terendah janin adalah oksiput
g. Bila dilakukan
dorongan pada fundus maka kepala janin akan turun melewati pintu atas panggul
Jika kriteria diatas tidak
dipenuhi, ,maka pilihannya adalah seksio sesaria. Bila dipergunakan oksitosin,
maka harus dilakukan pengawasan ketat terhadap denyut jantung janin dan pola
kontraksi uterus, frekuensi, intensitas, lamanya, dan waktu relaksasi serta
hubungannya dengan denyut jantung janin diamati secara ketat. Bila denyut
jantung tidak diawasi terus menerus, maka penting sekali untuk melakukan
pemeriksaan denyut jantung janin segera setelah kontraksi uterus, dan tidak
harus menunggu satu menit atau lebih.
Teknik Pemberian Oksitosin Intravena
Sepuluh unit oksitosin dilarutkan dalam satu liter cairan, biasanya diberikan glukosa 5% dalam air, atau lebih baik dipakai suatu larutan garam berimbang. Larutan yang lebih encer dapat disiapkan dengan melipatkan jumlah cairan atau mempergunakan setengah jumlah oksitosin. Meskipun oleh beberapa penulis dinyatakan bahwa larutan yang lebih encer juga efektif, tetapi larutan ( 10 U dalam 1 liter ) adalah mudah dipersiapkan, aman, efektif, dan mungkin paling sedikit memberikan keraguan dalam mempersiapkan dan pemberiannya. Dengan larutan oksitosin 10 mU/ ml, maka aliran rata-rata mudah dikalkulasi. Dianjurkan menggunakan sistim pompa infus yang konstan, yang akan meningkatkan ketelitian dosis yang diberikan, terutama dalam dosis rendah.
Jarum yang mempunyai penutup-aliran dimasukkan ke dalam vena di lengan, atau lebih baik melaui infus intravena yang sudah terpasang dan berfungsi baik, dan tetesan mulai di berikan tidak lebih dari 1 mU tiap menit. ( Seitchik dan Castillo, 1982 ). Untuk meningkatkan persalinan akibat murni suatu disfungsi uterus hipotonik, jumlah oksitosin tersebut tidak akan menyebabkan tetania uteri, walaupun pada suatu saat harus siap sewaktu-waktu menghentikan tetesan pada keadaan dimana uterus sangat sensitive terhadap oksitosin. Aliran dinaikkan secara sangat bertahap, dengan waktu tidak lebih dari 30 menit untuk mendapatkan tidak lebih dari 10 mU tiap menit, seperti yang dianjurkan oleh Seitchik dan Castillo(1981,1983a,1983b). Untuk pengobatan disfungsi uterus, rata-rata dosis yang dibutuhkan jarang melampaui dosis tersebut. Untuk induksi persalinan, jika diberikan dengan tetesan rata-rata 30-40 mU tiap menit tidak dapat menimbulkan kontraksi uterus yang memuaskan, maka tetesan yang lebih besarpun tidak mungkin akan berhasil.
Selama infus oksitosin dilaksanakan ibu tidak boleh dibiarkan sendirian. Kontraksi uterus diawasi terus-menerus dan tetesan segera dihentikan bila dijumpai kontraksi uterus yang lamanya melebihi 1 menit atau bila diselerasi denyut jantung janin yang bermakna. Bila salah satu hal tersebut terjadi, tetesan harus segera dihentikan dan biasanya terjadi perbaikan gangguan tersebut, serta mencegah bahaya pada ibu dan janin. Kosentrasi oksitosin dalam plasma cepat menurun, karena waktu-paruh oksitosin rata-rata kurang dari 3 menit.
Harus
selalu diingat bahwa oksitosin mempunyai pengaruh antidiuretik yang kuat. Pada
pemberian oksitosin 20 mU atau lebih tiap menit, klirens air –bebas oleh ginjal
(free water clearance) menurun secara nyata. Jika cairan mengandung air
(aqueous fluids), terutama dextrose dalam air, diberikan dalam jumlah cukup
besar dan lama, bersamaan dengan oksitosin, terdapat kemungkinan untuk terjadi
intoksikasi air yang merupakan penyebab terjadinya kejang, coma, dan malahan
kematian.
Diparkland
Memorial Hospital, bila menggunakan oksitosin pada uterus yang hipotonus, maka
dilaksanakan persyaratan umum berikut :
- Wanita harus sudah menunjukkan tanda-tanda bahwa proses persalinan benar-benar telah terjadi, bukan suatu persalinan palsu atau persalinan prodromal. Satu-satunya tanda persalinan, adalah terjadinya pendataran serviks yang progresif dan pembukaan serviks. Walaupun proses itu dapat terhenti, tetapi pembukaan servik paling tidak sudah mencapai 3 cm. Salah satu kesalahan yang sering dilakukan oleh seseorang pakar obstetrik adalah mencoba melakukan perangsangan persalinan, sebelum wanita tersebut mengalami persalinan aktif.
- Harus tidak ada factor-faktor obstruksi mekanik sehingga jalannya persalinan aman.
- .Penggunaan oksitosin umumnya dihindarkan pada kasus-kasus dengan presentasi janin abnormal dan regangan uterus yang berlebihan seperti pada hidramnion, janin tunggal yang besar, atau kehamilan multiple.
- Wanita dengan paritas tinggi (lebih dari 5), pada umumnya tidak diberi oksitosin karena mudah mengalami ruptura uteri dibandingkan dengan wanita paritas rendah. Demikian pula dengan wanita dengan cacat uterus, penggunaan oksitosin ditangguhkan.
- Keadaan janin harus baik, yang dibuktikan dengan pemeriksaan denyut jantung janin dan tidak adanya mekonium yang kental dalam cairan amnion. Tentu saja pada janin yang mati tidak ada kontra indikasi untuk memberikan oksitosin, kecuali bila jelas terdapat disproporsi fetopelvik atau letak lintang.
- Ahli obstetrik harus memperhatikan kontraksi pertama setelah pemberian obat tersebut dan siap menghentikan pemberiannya bila terjadi tetania uteri. Merupakan keharusan untuk menghindarkan suatu hiperstimulasi. Frekuensi, intensitas, dan lamanya kontraksi, serta tonus uterus antara kontraksi tidak boleh melebihi seperti apa yang terjadi pada persalinan spontan yang normal.
- Pola denyut jantung janin dan kontraksi uterus dievaluasi berulang-ulang. Untuk itu dianjurkan melakukan pemantauan secara terus menerus terhadap denyut jantung janin dan kontraksi uterus.
Oksitosin
merupakan obat yang kuat, obat tersebut dapat membunuh dan membuat cacat ibu
dengan terjadinya ruptura uteri, dan malahan menyebabkan lebih banyak kematian
dan cacat janin akibat hipoksia yang disebabkan oleh kontraksi uterus yang
sangat hipertonik. Tetapi pemberian oksitosin intravena pada berbagai publikasi
terbukti jelas memberikan keuntungan, karena keefektifan maupun keamanannya.
Kegagalan mengobati disfungsi uterus menyebabkan ibu manghadapi peningkatan
bahaya terjadinya kelelahan, infeksi intrapartum, dan kelahiran operatif yang
traumatik. Disamping itu, kegagalan mengobati disfungsi uterus dapat
menghadapkan janin terhadap resiko kematian yang lebih besar, sedangkan resiko
penggunaan oksitosin intravena, bila digunakan dengan cara yang benar, dapat
diabaikan. Tetapi kecelakaan yang berat dapat terjadi pada penggunaannya bila
persyaratannya tidak diawasi dengan ketat. Ruptura uteri pada segmen bawah
uterus akibat stimulasi dengan larutan oksitosin intravena hendaknya merupakan
peringatan kepada dokter tentang pentingnya persyaratan tersebut. Dalam kasus
tersebut, oksitosin diberikan pada seorang multipara umur 38 tahun. Karena
tidak ditemukan kelainan lian, seharusnya dianggap adanya otot uterus yang
menua yang telah mengalami regangan berkali-kali pada persalinan-persalinan
sebelumnya, sehingga tidak dapat menahan beban yang ditimbulkan oleh oksitosin.
Satu sifat oksitosin intravena adalah kenyataan bahwa
bila berhasil, obat tersebut bekerja dengan segera, menyebabkan kemajuan yang
jelas dengan sedikit hambatan. Pada setiap kecepatan tetesan infus kadar plasma
mencapai plateau setelah 30 menit karena kecepatan tetesan dan kecepatan
penghancurannya oleh oksitosinase mencapai keseimbangan. Oleh karena itu obat
tersebut tidak perlu diberikan pada jangka waktu yang tak terbatas untuk
merangsang persalinan. Obat tersebut harus diberikan selama tidak lebih dari
beberapa jam (O’Driscoll dkk, 1984; Seitchik dan Castillo 1983a,1983b); bila
kemudian serviks tidak mengalami perubahan yang nyata, dan bila diramalkan
tidak akan terjadi persalinan pervaginam secara mudah, maka harus dilakukan
kelahiran seksio sesarea. Sebaliknya, oksitosin tidak boleh digunakan untuk
memaksa pembukaan serviks dengan kecepatan yang melebihi keadaaan normal (Cohen
dan Friedman,1983). Kesiapan untuk melakukan seksio sesarea dalam hal kegagalan
oksitosin atau bila terdapat kontraindikasi pemakaiannya, sangat menurunkan
mortalitas dan morbiditas perinata.
IV. Gula Darah pada masa Kehamilan
Ketosis
Bila
terjadi kelebihan asetil-KOA dalam tubuh, maka sebagian diubah menjadi
asetoasetil-KOA dan kemudian di hati menjadi asetoasetat. Asetoasetat dan turun-turunannya, aseton
dan – hidroksibutirat masuk ke dalam sirkulasi dalam jumlah banyak.
Badan keton dalam darah
merupakan sumber energi penting pada keadaan puasa. Tingkat penggunaan keton
pada penderita diabetes cukup tinggi. Telah diperhitungkan bahwa angka maksimum
dimana lemak dapat dikatabolisasi tanpa timbulnya ketosis adalah 2,5 g/kg berat
tubuh/h pada pasien diabetes. Pada diabetes yang tidak diobati, pembentukan
lebih besar dari angka ini, dan badan-badan keton menumpuk dalam aliran darah.
Toleransi
Karbohidrat
Kemampuan tubuh untuk
menggunakan karbohidrat dapat ditentukan oleh pengukuran toleransi karbohidrat.
Ini ditunjukkan olah sifat kurva dari glukosa darah setelah pemberian glukosa.
Diabetes Melitus ditandai oleh penurunan toleransi karbohidrat karena penurunan
sekresi insulin.Ini dimanifestasikan oleh peningkatan kadar glukosa darah
(hyperglikemia) dan disertai glikosuria dan dapat diikuti oleh
perubahan-perubahan pada metabolisme lemak. Toleransi karbohidrat menurun tidak
hanya pada diabetes tetapi juga pada keadaan dimana hati rusak, pada beberapa
infeksi, obesitas dan kadang-kadang arteroklerosis. Ini juga diharapkan terjadi
pada hyperaktivitas hipofisis atau korteks adrenal karena hormon-hormon dari
kelenjar endokrin yang kerjanya antagonistis terhadap insulin. Insulin, yaitu
hormon dari pulau langerhans pankreas, menaikkan toleransi karbohidrat.
Penyuntikan insulin menurunkan kadar glukosa dalam darah dan menaikkan
penggunaan dan penyimpanan glukosa dalam darah dan menaikkan penggunaan dan
penyimpanan glukosa dalam hati dan otot sebagai glikogen.
Insulin yang berlebihan dapat
menurunkan kadar glukosa darah sampai dapat terjadi hipoglikemia yang berat
yang mengakibatkan konvulsi dan malahan dapat mematikan kalau tidak segera
diberikan glukosa. Konvulsi hipoglikemia dapat terjadi bila kadar glukosa darah
sangat menurun sampai kira-kira 20 mg/dl atau kurang. Peningkatan toleransi
karbohidrat juga ditemukan pada insufisiensi hipofisis atau korteks adrenal,
ini diduga sebagai akibat dari penurunan antagonis normal terhadap insulin yang
menyebabkan suatu kelebihan relatif dari hormon tersebut.
Pengaturan
Glukosa Darah
Mempertahankan kadar glukosa
dalam darah hingga stabil adalah salah satu yang paling baik pengaturannya dari
semua mekanisme homeostatik dan dimana hati, jaringan-jaringan ekstrahepatik,
dan beberapa hormon mempunyai peranan.Sel-sel hati sangat permeable terhadap
glukosa, sedangkan sel-sel jaringan ekstrahepatik adalah relatif impermeabel.
Ini mengakibatkan penembusan melalui membran sel merupakan langkah-langkah yang
“rate limiting” pada uptake glukosa dalam jaringan ekstrahepatik dan ini dengan
cepat mengalami fosforilasi oleh heksokinase pada waktu masuk kedalam sel.
Sebaliknya, ada kemungkinan
bahwa aktifasi enzim-enzim tertentu dan konsentrasi zat-zat antara yang penting
lebih banyak mempengaruhi secara langsung uptake dan output glukosa dalam darah
merupakan faktor yang penting yang mengatur kecepatan uptake glukosa dalam hati
dan jaringan ekstrahepatik.
Heksokinase dihambat oleh glukosa 6-fosfat, sehingga dapat terjadi pengaturan umpan balik terhadap uptake glukosa dalam jaringan ekstrahepatik yang tergantung pada heksokinase untuk fosforilasi glukosa. Glukokinase yang mempunyai km lebih tinggi (afinitas yang lebih rendah) untuk glukosa daripada heksokinase, meningkat dalam aktifitas batas konsentrasi fisiologis glukosa dan mempunyai hubungan spesifik dengan uptake glukosa ke dalam hati pada konsentasi yang lebih tinggi dalam vena porta hepatik sesudah makan karbohidrat.
Heksokinase dihambat oleh glukosa 6-fosfat, sehingga dapat terjadi pengaturan umpan balik terhadap uptake glukosa dalam jaringan ekstrahepatik yang tergantung pada heksokinase untuk fosforilasi glukosa. Glukokinase yang mempunyai km lebih tinggi (afinitas yang lebih rendah) untuk glukosa daripada heksokinase, meningkat dalam aktifitas batas konsentrasi fisiologis glukosa dan mempunyai hubungan spesifik dengan uptake glukosa ke dalam hati pada konsentasi yang lebih tinggi dalam vena porta hepatik sesudah makan karbohidrat.
Disamping pengaruh langsung dari
hyperglikemia dalam memperbesar uptake glukosa ke dalam hati dan jaringan
perifer, hormon insulin memegang peranan pokok dalam pengaturan konsentrasi
glukosa darah. Insulin dihasilkan oleh sel-sel beta pulau langerhans dalam
pankreas dan disekresi ke dalam darah sebagai respon langsung terhadap
hyperglikemia. Konsentrasinya dalam darah sejajar dengan konsentrasi glukosa
zat yang menyebabkan pengeluaran insulin adalah asam-asam amino, sekretin dan
tolbutamid. Epinefrin dan norepinefrin menghambat pengeluaran insulin. Invitro
(dan mungkin in vivo), insulin mempunyai efek langsung pada jaringan seperti
jaringan adiposa dan otot dalam menaikkan kecepatan uptake glukosa. Diduga
bahwa kerja ini disebabkan karena peningkatan transport glukosa melalui membran
sel.
Kelenjar hipofisis anterior
mengsekresi hormon-hormon yang cenderung untuk meningkatkan glukosa darah dan
oleh karena itu melawan kerja insulin. Hormon-hormon ini adalah hormon pertumbuhan
badan. ACTH (kortikotropin), dan mungkin zat “diabetogenik” lainnya. Sekresi
hormon pertumbuhan badan dirangsang oleh hipoglikemia. Hormon ini menurunkan
uptake glukosa dalam jaringan tertentu, misalnya : otot. Pemberian hormon
pertumbuhan untuk waktu yang lama menimbulkan diabetes. Dengan menimbulkan
hyperglikemia ia merangsang sekresi insulin, dengan kemungkinan menyebabkan
sel-sel beta menjadi letih. Walaupun ACTH dapat mempunyai efek tidak langsung
pada penggunaan glukosa, karena ia memperbesar pengeluaran asam-asam lemak
bebas dari jaringan adiposa, efek utamanya pada metabolisme karbohidrat adalah
karena perangsangan sekresi hormon-hormon korteks adrenal.
Korteks adrenal mengsekresi
sejumlah hormon steroid diantara mana glukokortikoid adalah penting dalam
metabolisme karbohidrat. Pemberian glukokortikoid mengakibatkan
glikoneogenesis. Ini sebagai akibat dari kenaikan katabolisme protein dalam
jaringan, peningkatan uptake asam amino oleh hati, dan kenaikan aktivitas
transaminase dan enzim-enzim lainnya yang berhubungan dengan glukoneogenesis
dalam hati. Selain itu, glukokortikoid menghambat penggunaan glukosa dalam
jaringan ekstrahepatik. Glukokortikoid berperan dengan suatu cara yang
antagonistik terhadap insulin.
Epinefrin disekresi oleh medulla
adrenal, merangsang pemecahan glikogen dalam otot. Akan tetapi, pemberian
epinefrin mengakibatkan pengeluaran glukosa dari hati bila terdapat glikogen
akibat perangsangan fosforilase. Pada Otot, sebagai akibat tidak adanya glukosa
6-fosfotase, glikogenolisis mengakibatkan pembentukan laktat. Laktat yang
berdifusi ke dalam darah diubah kembali oleh mekanisme glukoneogenesis menjadi
glikogen dalam hati (siklus cori). Hypoglikemia menyebabkan suatu rangsangan
saraf simpatis, kenaikan sekresi epinefrin merangsang glikogenolisis, yang
diikuti oleh kenaikan konsentrasi glukosa darah.
Glukogen adalah hormon yang
diproduksi oleh sel-sel alfa pulau langerhans dari pankreas. Sekresinya
dirangsang oleh hypoglikemia dan bila sampai di hati (melalui vena porta),
menyebabkan glikogenolisis dengan mengaktifkan fosforilase dengan cara yang
sama seperti epinefrin. Sebagian besar glukogen dikeluarkan dari peredaran oleh
hati. Tidak seperti epinefrin, glukogen tidak mempunyai efek terhadap
fosforilse otot. Glukogen juga menambah glukoneogenesis dan glukogenolisis hati
ikut berperan pada efek hiperglikemik dari glukogen
Konsentrasi
Glukosa Darah
Dalam
keadaan postabsorbsi konsentrasi glukosa darah manusia berkisar antara 80 – 100
mg/dl. Setelah makan karbohidrat kadar dapat meningkat sampai sekitar 120-130
mg/dl. Selama puasa, kadarnya turun sampai sekitar 60-70 mg/dl. Dalam keadaan
normal, kadarnya dikontrol dalam batas-batas ini.
Sumber
Glukosa Darah
1. Dari karbohidrat
makanan
Sebagian besar karbohidrat dalam
makanan pada pencernaan membentuk glukosa, galaktosa atau fruktosa. Ini
diabsorbsi ke dalam vena porta. Galaktosa dan fruktosa segera diubah menjadi
glukosa dalam hati.2. Dari berbagai senyawa glukogenik yang mengalami
glukoneoge-nesis :
Senyawa-senyawa ini dibagi dalam
dua kategori :
a. Senyawa yang langsung diubah
menjadi glukosa tanpa banyak resiklus, seperti beberapa asam amino dan
propionat.
b. Senyawa yang merupakan hasil
dari metabolisme parsial glukosa dalam jaringan tertentu yang diangkut ke hati
dan ginjal, dimana mereka disintesis kembali menjadi glukosa.
Jadi, laktat yang dibentuk dari
oksidasi glukosa dalam otot rangka dan oleh eritrosit, ditransport ke hati dan
ginjal dimana mereka diubah menjadi glukosa, yang dapat digunakan lagi melalui
sirkulasi untuk oksidasi dalam jaringan. Proses ini dikenal sebagai siklus cori
atau siklus asam laktat.
Gliserol untuk triasilgliserol
jaringan adipose mula-mula berasal dari glukosa darah karena gliserol bebas
tidak segera dapat dipergunakan untuk sintesis triasilgliserol dalam jaringan
ini. Asilgliserol jaringan adiposa secara kontinyu mengalami hidrolisis untuk
membentuk gliserol bebas, yang berdifusi keluar dari jaringan masuk ke dalam
darah. Ia diubah kembali menjadi glukosa oleh mekanisme glukoneogenesis dalam
hati dan ginjal. Jadi terdapat suatu siklus yang kontinyu dimana glukosa
ditransport dari hati dan ginjal ke jaringan adiposa dan gliserol dikembalikan
untuk disintesis menjadi glukosa oleh hati dan ginjal.
2. Dari glikogen hati
oleh glikogenolisis
Diabetes
Diabetes
ditandai oleh poli uria, poli dipsia, penurunan berat tubuh walaupun terjadi
polifagia (peningkatan nafsu makan), hyperglikemia, glikosuria, ketosis,
asidosis dan koma. Terjadi bermacam-macam kelainan biokimia, tetapi gangguan
yang mendasari sebagian besar kelainan tersebut adalah :
-
Penurunan pemasukan glukosa ke dalam berbagai jaringan perifer
-
Peningkatan pembebasan glukosa dalam sirkulsi dari hati (peningkatan
glukogenesis hati), sehingga terjadi kelebihan glukosa ekstra sel dan pada
banyak sel, defisiesnsi glukosa intrasel, suatu situasi yang disebut sebagai
kepalaran ditegah lumbung beras. Juga terjadi penurunan pemasukan asam-asam
amino ke dalam otot dan peningkatan lipolisis.
Penyakit
Gula Dalam Kehamilan
Penyakit
gula dapat merupakan kelainan herediter dengan ciri insufisiensi atau absennya
insulin dalam sirkulasi darah, konsentrasi gula darah tinggi, dan berkurangnya
glikogenesis. Diabetes pada kehamilan menimbulkan banyak kesulitan. Penyakit
ini akan menyebabkan perubahan-perubahan metabolik dan hormonal pada penderita
yang juga dipengaruhi oleh kehamilan. Sebaliknya, diabet akan mempengaruhi
kehamilan dan persalinan. Frekuensi penyakit ini 0,3 % s/d 0,7 %.Dugaan
penyakit gula makin tinggi terjadi pada :
1.
Umur penderita makin tua
2.
Pada multipara
3.
Penderita gemuk
4.
Kelainan anak lebih besar dari 4000 gr
5. Riwayat
kehamilan yang mengalami : sering meninggal dalam rahim, sering mengalami lahir
mati, sering mengalami keguguran.
6.
Bersifat keturunan.
7.
Pada pemeriksaan terdapat gula dalam urin.
Kejadian
penyakit gula dalam kehamilan sering memberikan pengaruh yang kurang
menguntungkan dan dapat dijabarkan sebagai berikut :
1.
Pengaruh penyakit gula pada kehamilan :
a.
Dapat terjadi gangguan pertumbuhan janin dalam rahim : terjadi keguguran,
persalinan premature, kematian dalam rahim, lahir mati atau bayi besar.
b.
Dapat terjadi hidramnion
c.
Dapat menimbulkan pre eklampsia dan eklampsia.
2. Pengaruh penyakit gula pada persalinan :
a. Gangguan kontraksi otot rahim yang menimbulkan persalinan lama atau terlantar.
b. Janin besar dan sering memerlukan tindakan operasi
c. Gangguan pembuluh darah placenta yang menimbulkan asfiksia sampai lahir mati.
d. Pendarahan post partum karena gangguan kontraksi otot rahim
e. Post partum muda terjadi infeksi
f. Bayi mengalami hipoglisemia post partum dan dapat menimbulkan kematian.
a. Gangguan kontraksi otot rahim yang menimbulkan persalinan lama atau terlantar.
b. Janin besar dan sering memerlukan tindakan operasi
c. Gangguan pembuluh darah placenta yang menimbulkan asfiksia sampai lahir mati.
d. Pendarahan post partum karena gangguan kontraksi otot rahim
e. Post partum muda terjadi infeksi
f. Bayi mengalami hipoglisemia post partum dan dapat menimbulkan kematian.
3. Pengaruh penyakit gula pada kala nifas :
a. Mudah terjadi infeksi post partum
b. Kesembuhan luka terlambat dan cenderung infeksi menyebar.
a. Mudah terjadi infeksi post partum
b. Kesembuhan luka terlambat dan cenderung infeksi menyebar.
4.
Pengaruh penyakit gula terhadap janin :
a. Dapat terjadi keguguran,
persalinan premature, kematian janin dalam rahim (setelah minggu 36) dan lahir
mati.
b. Bayi dengan dismaturitas
c. Bayi dengan cacat bawaan
d. Bayi yang potensial mengalami
kelainan syaraf dan jiwa
e. Bayi yang dapat menjadi
potensial mengidap penyakit gula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar